Pementasan zaman Meiji menunjukkan adegan seseorang (berpakaian putih) mengharakiri diri di hadapan seberapa watak lain, dengan seorang pemenggal kepala di belakangnya

Harakiri [ha-ra-ki-ri; 腹切り, "potong perut"),[1]] atau seppuku [sép-pu-ku; 切腹] adalah amalan membunuh diri masyarakat Jepun yang menjadi satu aspek penting dalam masyarakat feudal Jepun (1192-1862) terutama di kalangan samurai. Ia dianggap sebagai cara kematian yang mulia. Harakiri secara literal bermaksud "memotong perut".

Ia pertama kali dicatat dalam literatur setelah Minamoto no Yorimasa melakukan seppuku dalam Pertempuran Uji pada tahun 1180.[2]

PeristilahanSunting

Kedua-dua perkataan harakiri dan seppuku sama maksudnya:

  • seppuku adalah cara baca aksara kanji menurut cara bacaan tulisan Cina (on'yomi) yang biasanya dipakai dalam penulisan formal,
  • harakiri adalah sebutan megikut maksud dalam bahasa Jepun (kun'yomi) yang lebih banyak dipakai dalam percakapan - ia mula dikenal luas di dunia Barat melalui orang bangsa Eropah yang menyaksikan kegiatan ini semasa dalam Pemulihan Meiji tahun 1868.[3] Ia pertama kali dimuat dalam kamus ensiklopedia Larousse tahun 1873.[3]

Menurut Christopher Ross

"Kata hara-kiri sering dijelaskan sebagai sebuah vulgarisme (ungkapan kasar), tetapi sebetulnya ini adalah salah pengertian. Hara-kiri adalah cara membaca aksara kanji menurut cara Jepun (kun-yomi); oleh karena sudah menjadi tradisi untuk mengutamakan cara baca Cina dalam pengumuman-pengumuman resmi, hanya istilah seppuku-lah yang dipakai dalam pengumuman resmi. Jadi, hara-kiri adalah istilah yang dipakai dalam percakapan, dan seppuku adalah istilah tertulis untuk tindakan yang sama."[4]

PenjelasanSunting

Tindakan ini adalah sebahagian dari bushido iaitu kod bagi pahlawan samurai. Ia digunakan samurai supaya tidak dimalukan apabila jatuh ke tangan musuhyang mungkin akan menyeksa mereka dengan lebih perit. Kemungkinan juga, samurai mendapat arahan dari tuan mereka supaya melakukan seppuku. Seppuku juga dilakukan untuk menebus kemaluan atas kegagalan melakukan misi.

Kadangkalanya seorang daimyo memerintahkan musuh yang telah kalah untuk melaksanakan seppuku sebagai dasar sebuah perjanjian damai yang bertujuan melumpuhkan kemampuan perang puak yang ditawan. Toyotomi Hideyoshi memerintahkan musuhnya untuk melakukan bunuh diri dalam beberapa peristiwa. Salah satu peristiwa yang paling dramatis adalah ketika klan Hōjō dikalahkannya dalam Pertempuran Odawara tahun 1590. Hideyoshi memaksa daimyo Hōjō Ujimasa yang sudah pensiun untuk melakukan seppuku dan pengasingan putra Ujimasa yang bernama Hōjō Ujinao. Kekuasaan klan Hōjō yang dikenal sebagai keluarga daimyo paling berpengaruh di Jepang Timur, secara praktis berakhir setelah Ujimasa melakukan seppuku.

TatacaraSunting

 
Pisau khas yang digunakan untuk tujuan bunuh diri dipanggil tanto.

Perilaku sesuatu seppuku yang dirancang dilakukan di hadapan sebilangan orang saksi. Pelaku akan dimandikan dan selepas itu menjamu suatu hidangan terakhir sebelum dihadapkan dengan bersiap memakai kimono serba putih untuk tujuan ini dipanggil shini-shōzoku. Dia akan mengarang suatu sajak khusus (jisei, 辞世) sebelum memulakan perobekan diri ini[5] - perkara ini mencerminkan kepercayaan agama Buddha lazim di Asia Timur yang melihat kehidupan sebagai suatu perkara yang tidak dipandang berat dan perlu dilepaskan bagi mencapai kedamaian total.

Senjata utama yang digunakan untuk melakukan seppuku adalah pisau samurai yang dipanggil tantō atau pedang pendek wakizashi. Samurai yang mahu melakukan seppuku akan memilih senjata yang mahu digunakan, membuka kimononya, menikam perutnya dan merobek dari kiri ke kanan. Seorang yang dipanggil kaishakunin akan menolong menamatkan riwayat samurai terbabit dengan memenggal kepala samurai tersebut selepas itu.

RujukanSunting

  1. ^ "The Free Dictionary". Dicapai pada 10 November 2013.
  2. ^ Turnbull, Stephan R. (1977). The Samurai: A Military History. New York: MacMillan Publishing Co. m/s. 47. ISBN 0-304-35948-3.
  3. ^ a b Ōnuki, Akihito. "Seppuku o Megutte: André Malraux to Mishima Yukio 切腹をめぐって—アンドレ・マルローと三島由起夫". Bungei Kenkyū文芸研究. Meiji University (2005-03-26). Dicapai pada 2013-11-25.
  4. ^ Ross, Christopher. Mishima's Sword, p.68.
  5. ^ Samurai Fighting Arts: The Spirit and the Practice di Buku Google