Istana Negara, Jakarta

Istana Negara merupakan suatu kediaman besar terletak di Jalan Veteran, Jakarta Pusat. Istana Negara juga terletak satu kompleks dengan Istana Merdeka yang letaknya di bahagian selatan Istana ini. Dengan total luas keseluruhannya mencapai 68,000 m², kompleks ini meliputi 3 bangunan penting lainnya seperti Bina Graha, Wisma Negara, dan kantor Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. Yang menjadi perbedaan antara kedua Istana ini iaitu Istana Negara menghadap ke arah Jalan Veteran, sedangkan Istana Merdeka menghadap ke arah Medan Merdeka.[1]

Istana Negara
COLLECTIE TROPENMUSEUM Het paleis van de Gouverneur Generaal in Noordwijk te Batavia TMnr 60010979.jpg
Istana Negara ketika masih bernama Paleis te Rijswijk tahun 1925
Maklumat umum
Gaya seni bina
Indische
LokasiJalan Veteran, no. 17, Jakarta Pusat, Indonesia
Pembinaan bermula1796
sunting
Lihat pendokumenan templat ini

Bangunan ini menjadi tempat pelangsungan acara-acara yang bersifat kenegaraan antara lain seperti pelantikan para penjawat (atau pejabat) tinggi negara, pembukaan musyawarah dan rapat kerja nasional, kongres bersifat kebangsaan dan antarabangsa, serta jamuan bersifat kenegaraan.

SejarahSunting

 
Sebuah Litografi Paleis Rijswijk sekitar tahun 1880-an
 
Foto Istana Rijswijk antara tahun 1857-1872
 
Interior dalam Istana Rijswijk tahun 1920-an

Pada awalnya di kompleks Istana di Jakarta ini hanya terdapat satu bangunan, yaitu Istana Negara. Gedung yang mulai dibangun 1796 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten dan selesai 1804 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johannes Siberg ini semula merupakan rumah peristirahatan luar kota milik pengusaha Belanda, J A Van Braam. Kala itu kawasan yang belakangan dikenal dengan nama Harmoni memang merupakan lokasi paling bergengsi di Batavia Baru.

Pada tahun 1820 hingga 1821, rumah peristirahatan van Braam ini disewa dan kemudian dibeli oleh pemerintah kolonial untuk digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta tempat tinggal para gubernur jenderal bila berurusan di Batavia (kini Jakarta). Para gubernur jenderal waktu itu kebanyakan memang memilih tinggal di Istana Bogor yang lebih sejuk. Tetapi kadang-kadang mereka harus turun ke Batavia, khususnya untuk menghadiri pertemuan Dewan Hindia, setiap Rabu.

Rumah van Braam dipilih untuk kepala koloni, kerana Istana Daendels di Lapangan Banteng belum selesai. Tapi setelah diselesaikan pun gedung itu hanya dipergunakan sebagai tempat pejabat atau kantoor pemerintah.

Selama masa pemerintahan Hindia Belanda, beberapa peristiwa penting terjadi di gedung yang dikenal sebagai Istana Rijswijk (namun resminya disebut Hotel van den Gouverneur-Generaal, untuk menghindari kata Istana) ini. Di antaranya:

Pada mulanya bangunan seluas 3.375 m2 berarsitektur gaya Yunani Kuno ini bertingkat dua. Tapi pada 1848 bahagian atasnya dibongkar; dan bahagian depan lantai bawah dibuat lebih besar untuk memberi kesan lebih resmi. Bentuk bangunan hasil perubahan 1848 inilah yang bertahan sampai sekarang tanpa ada perubahan yang berarti.

Kerana Istana Rijswijk mulai sesak, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.W. van Lansberge tahun 1873 dibangunlah istana baru pada kaveling yang sama, Istana tersebut dinamakan Paleis te Koningsplein atau Istana Gambir yang kemudian dikenal dengan nama Istana Merdeka setelah Indonesia merdeka.

GaleriSunting

Lihat pulaSunting

RujukanSunting

  1. ^ Istana Republik Indonesia. Accessed June 20, 2012.