Perbezaan antara semakan "Aceh Tengah"

24,354 bait dibuang ,  11 tahun lalu
buang yang tidak berkenaan
(buang yang tidak berkenaan)
|ibukota=[[Takengon]]
|luas=4,318.39 km²
|penduduk=101,707 <ref>http://www.nad.go.id/uploadfiles/PENDUDUK/PENDUDUKBULANJUNI_08.pdf</ref>
|kecamatan=14
|Desa=266
|kodearea=0643
|Visi=Terwujudnya Kemakmuran Terhalaunya Kemiskinan Menuju Masyarakat Aceh Tengah Sejahtera 2012
|lambang=[[ImejFail:Lambang Kabupaten Aceh Tengah.png|120px]]
|peta=[[ImejFail:Locator_kab_aceh_tengah.png]]
|koordinat=4°10”-4°58” LU dan 96°18”–96°22” BT
|apbd=
|dau=Rp 146,11 milyar
|dau=Rp 146,11 juta
|dasar hukum=-
|dasar hukum=
|tanggal=-
|tanggal=
|kepadatan=45
|kepala daerah=[[Bupati]]
}}
 
'''<!--Kabupaten--> Aceh Tengah''' dikenal juga sebagai '''Dataran Tinggi Gayo''' merupakanadalah sebuah [[kabupaten]] yang terletak di [[Aceh]], [[Indonesia]]. IbukotanyaIbu adalahkotanya ialah Takengon. Daerah yang berada di salah satu bahagian punggung pegunungan [[Bukit Barisan]] yang membentang sepanjang Pulau [[Sumatera]]. Ibu Kotakota Kabupaten ini berhawa yang sejuk. Aceh Tengah terkenal dengan [[Danau Laut Tawar]]. Aceh Tengah merupakan daerah penghasil kopi organik jenis arabika terbaik di dunia. Selain [[kopi]], Aceh Tengah juga penghasil [[buah|buah-buahan]] dan [[sayur]]an. Sebagian besar masyarakat Aceh Tengah berprofesi sebagai petani.
 
<!--Secara administratif dataran tinggi Gayo meliputi wilayah Kabupaten [[Aceh Tengah]] dan kabupaten Bener Meriah serta kabupaten Gayo Lues. Tiga kota utamanya yaitu [[Takengon]], [[Blang Kejeren]] dan [[Simpang Tiga Redelong]].
===Radio Rimba raya===
'''Radio Rimba Raya''' ([[Desember]] [[1948]] - ... [[1949]]) adalah [[Radio Republik Indonesia]] Darurat yang disiarkan dari [[Takengon]], [[Aceh Tengah]] oleh [[TNI|Tentara Republik Indonesia]] Divisi X/[[Aceh]] pimpinan [[Kolonel]] [[Husin Yusuf]]. Radio ini mulai bersiaran sejak terjadinya [[Agresi Belanda I]] sampai dengan [[Konferensi Meja Bundar]] berakhir dan tentara pendudukan Belanda ditarik dari [[Indonesia]]
-->
 
== Pelancongan ==
 
Tarikan pelancong di Aceh Tengah ialah Danau Laut Tawar, Pantan Terong (tarikan pemandangan), Taman Buru Linge Isak (berburu), Gua Loyang Koro, Loyang Pukes, Loyang Datu, Burni Klieten (hiking), dan Krueng Peusangan (merakit).
== Pariwisata ==
Objek wisata di Aceh Tengah ialah Danau Laut Tawar, Pantan Terong (atraksi pemandangan), Taman Buru Linge Isak (berburu), Gua Loyang Koro, Loyang Pukes, Loyang Datu, Burni Klieten (''hiking''), dan Krueng Peusangan (''rafting'').
 
== Masyarakat ==
Kabupaten Aceh Tengah memiliki sebuah universitas yang bernama [[Universitas Gajah Putih]].
 
== Tokoh terkenal ==
==<b>Siapa</b>==
===* Salman Yoga=== S (S. Yoga), sasterawan.
* Fikar W. Eda, pemuisi.
<b>[[Salman Yoga S]]</b> atau lebih dikenal dengan <b>S. Yoga</b>,Lahir di [[Takengon]], [[Aceh Tengah]] 05 Juli 1973. Sarjana Komunikasi Dan Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menyelesaikan Pascasarjana Magister Of Art di salah satu perguruan tinggi negeri di Medan. Ketua II Himpunan Sastrawan Muda Indonesia (HISMI), mantan Ketua Sanggar Seni Lungun Ikatan Pemuda Dan Mahasiswa Lut Tawar Yogyakarta (IPEMAHLUTYO) dan Sanggar Seni Meukuta Alam Taman Pelajar Aceh Yogyakarta (1995- 1998). Setelah selesai study Ia memilih menetap dan mengabdi di tanah leluhurnya Takengon, selain mengajar mata kuliah di Universitas Gajah Putih Takengon (STAI-UGP) dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ia jua bertani kopi. Ketua I bidang Penelitian, Pengembangan dan Program Dewan Kesenian Takengon (DEKATE) tahun 2002-2008, Ketua Himpunan Seniman dan Satrawan Muda Gayo (HSMG), ketua Teater Reje Linge Takengon, Ketua bidang Majlis Adat Dan Kebudayaaan Gayo Takengon (MANGO).
* Iwan Gayo, wartawan dan penyunting.
* Lesik Keti Ara (L.K. Ara), penyair.
* Ibrahim Kadir, penyair dan pelakon.
 
Sebagai sastrawan, Salman Yoga S, tercatat dalam buku “Leksikon Susastra Indonesia” yang dieditori oleh Korri Layun Rampan (Balai Pustaka Jakarta tahun 2000) serta dalam “Buku Pintar Sastra Indonesia” ditulis oleh Pamusuk Enenste yang diterbitkan oleh Kompas Group tahun 2001.
 
Antologi puisi tunggalnya yang telah terbit adalah “Sajak-Sajak Rindu” (KKSBMIY, 1995) dan novel “Tungku” (Banda Aceh, Aneuk Mulieng, 2006). Puisi, cerita pendek dan esainya terhimpun juga dalam antologi bersama”Percikan Tawar Danau Laut Tawar”(stensilan.1998), ”Gendewa” (HISMI. 1999), ”Aceh Mendesah Dalam Nafasku”, (Kasuha. 1999), ”Pasar Kembang” Komunitas Sastra Indonesia UGM. 2000), ”Embun Tajali” Festifal Kesenian Yogyakarta (FKY. XIII) 2000), ” Antologi Puisi Dan Geguritan” Dewan Kesenian Sleman Yogyakarta.2000), “Jakarta Dalam Puisi Mutakhir” (ed. Korri Layun Rampan, Dinas Kebudayaan Jakarta.2000), ”Dalam Beku Waktu“ (Koalisi NGO HAM Aceh dan ICCO Jakarta, 2002), “Takdir-Takdir Fansuri” Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB. 2002), “Selama Rencong Adalah Tanda Mata” (Koalisi NGO HAM Aceh dan CSSP Jakarta. 2002), “Maha Duka Aceh” PDS HB Jassin Jakarta 2005, “ 8-9 Lalu Tsunami” (Panitia Aceh Bangkit Jakarta 2005), “Syair Tsunami” (ed LK Ara & Mustafa Ismail 2005), “Lagu Kelu” (ASA Banda Aceh & Japan-Aceh Net Tokyo, 2005), “Ziarah Ombak” (Institute for Culture and Sociaty, 2005), “Ulang Tahun Perkawinan” (Medan, Analisa, 2007).
 
Dalam bentuk kaset baca puisi “Langitpun Mulai Merapat” (KKSBMIY.1997), “Mencintai Aceh Dengan Asap Ganja” (Misty Studio Yogyakarta.1999). Sedang karyanya dalam bentuk visual baca puisi terangkum dalam “BELBES” produksi Dewan Kesenian Takengon (DEKATe, 2003) dan Vcd “Ceh Kucak Gajah Putih” produksi YGP Takengon 2004.
 
Naskah dramanya berjudul “Aku Memanggilmu Ine” dipentaskan di Gedung Purna Budaya Yogyakarta 1999, Taman Budaya Banda Aceh 2000 dan Gedung Olah Seni Takengon 2001. “Kami Rindu Aman“ dipentaskan di Gedung Taman Budaya Banda Acah 2002, “Tungku” dipentaskan di Gedung Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marjuki (TIM) Jakarta 2003, Gedung Lembaga Indoesia Perancis (LIP) Yogyakarta 2003 dan Gedung RRI Jakarta 2003. “Wih” pada Pesta Monolog Nasional oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tanggal 11–19 Mei 2005 di TIM. Naskah teater dengan judul “Kembali Ke Tungku” pada bulan September dan Oktober yang lalu dipentaskan di tiga kota atas Hibah Seni dari World Bank dan Aceh Culture Institute.
 
===Fikar W. Eda===
<b>Fikar W. Eda</b> Lahir di [[Takengon]] 1966. Alumni Fakultas Pertanian [[Universitas Syiah Kuala]] (Unsyiah, Banda Aceh. Menggeluti sastra dan teater. Tampil dalam berbagai kegiatan baca puisi di sejumlah kota di Indonesia dan Malaysia, seperti Jakarta, Jogjakarta, Solo, Surabaya, Bandung, Kuala Lumpur dalam Pengucapan Puisi Dunia Ke-9 2002, Banda Aceh dan lain-lain. Menghadiri Forum Puisi Indonesia '87 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Refleksi Peringatan 50 Tahun Indonesia Merdeka di Solo, Pertemuan Penyair Sumatera di Lampung, Medan, Batam dan sebagainya. Bersama grup musikalisasi puisi Deavies Sanggar Matahari, menggelar acara “Tour Salam Damai” di sejumlah kota terpenting Indonesia dalam rangka Kampanye Hak Asasi Manusia Aceh. Menyusun antologi sastra “Aceh Mendesah Dalam Nafasku” bersama Lian Sahar dan Abdul Wachid BS (Kasuha, 1999), dan buku “Aceh Menggugat” (Pustaka Sinar Harapan, 1999) bersama S Sastya Dharma. Menulis buku “FORBES dan Jejak Lahirnya Undang Undang Pemerintahan Aceh” (Forbes, 2008), “SABANG, Menyusur Jejak Pelabuhan Bebas” (BPKS, 2008).
 
==== Karya Sastra ====
 
Kumpulan puisinya [[RENCONG]] ditulis dalam dua bahasa, [[Inggris]] dan [[Indonesia]] diterbitkan dalam edisi khusus (special edition) pada November 2008. Sebelumnya [[RENCONG]] diterbitkan pada 2003 dan 2005, diluncurkan di [[Universitas Indonesia]] (UI Depok), 17 Oktober 2003. Buku itu ‘dibedah' secara khusus oleh dua sastrawan Malaysia, [[Prof Siti Zainon Ismail]] dan [[DR Ahmad Kamal Abdullah]] atau [[Kemala]], penyair dan pengamat sastra [[Oyos Saroso HN]], [[Gola Gong]] dari Komunitas [[Rumah Dunia]], [[Tommy Christomi]] dari [[Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya]] (FIB) Universitas Indonesia, dan penyair ternama Indonesia, [[Rendra]]. Wakil Gubernur Aceh [[Muhammad Nazar]], membubuhkan catatannya pada halaman pembuka [[RENCONG]]. Sejak 1989, bekerja sebagai jurnalis pada surat kabar [[Serambi Indonesia]] yang terbit di [[Banda Aceh]]. Ia juga menjabat Sekjen [[Perhimpunan Jurnalis Indonesia]] atau [[PJI]] dan [[Komunitas musikalisasi Puisi Indonesia]] atau [[Kompi]]
 
Puisi-puisinya juga terhimpun dalam [[Antologi Forum Puisi Indonesia]] ([[Dewan Kesenian Jakarta, 1987]]), [[Antologi Sastra Aceh Seulawah]] (1995), [[Dari Bumi Lada]] (Dewan Kesenian Lampung, 1996), [[Aceh Mendesah Dalam Nafasku]] (Kasuha,1999), [[Antologi Puisi Indonesia Jilid I]] (KSI, 1997), [[Maha Duka Aceh]] ([[PDS HB Jassin]], 2005), [[Syair Tsunami]] (PN Balai Pustaka, 2005), [[Lagu Kelu]] (Asa-JapanNet, 2005), [[Ziarah Ombak]] (Institute for Culture and Sociaty, 2005, [[Antologia de Poeticas]] ([[Gramedia, 2008]])dan lain-lain.{{br}}
 
==== Sajak/Puisi ====
 
*TAKENGON 29 RIBU KAKI{{br}}
*RENCONG{{br}}
*SALAM DAMAI{{br}}
*SEPERTI BELANDA{{br}}
*NYALA ACEH{{br}}
*BIARKAN KAMI{{br}}
*RUMAH{{br}}
*BUNGA DAN PELURU{{br}}
*KEMANA{{br}}
*CAHAYA SUCI MATAHARI{{br}}
*JERIT BUKIT{{br}}
*DARI BALIK KACA SEBUAH MENARA{{br}}
*AKULAH SYAIR ITU{{br}}
*ACEH SATU (Lady’s Night){{br}}
*MARI{{br}}
*KABUT TIPIS KACA JENDELA{{br}}
*RINDU EMAK{{br}}
*KUTIKAM ACEH{{br}}
*AKU TAK BISA BERFIKIR{{br}}
*KITA BERDUA{{br}}
*LALU KITA{{br}}
*SYAIR CENDRAWASIH{{br}}
*RAJAH{{br}}
*KE LANGIT TAK BERBATAS{{br}}
*NURLAPAN{{br}}
*ASALKU DARI HULU
 
===Iwan Gayo===
'''Iwan Gayo''' ([[Takengon]], [[Aceh]], [[1951]]) adalah wartawan dan editor buku [[Indonesia]]. Ia mengumpulkan berbagai pengetahuan umum dan menerbitkan [[Buku Pintar Junior]], [[Buku Pintar Senior]], [[Buku Pintar 1001 TIPs]] Dan [[Buku Pintar Haji & Umrah]]. Saat ini banyak buku-buku pintar lain yang diterbitkan oleh berbagai pihak, dan kata "buku pintar" itu sendiri telah menjadi [[sinonim]] dengan [[ensiklopedia]] atau [[kamus]].
 
=== LK ARA ===
''Lesik Keti Ara''' atau lebih dikenal dengan '''L.K. Ara''' ({{lahirmati|[[Takengon]] [[Aceh]]|12|11|1937}}) adalah penyair asal [[Aceh]]. Setelah menamatkan sekolah dasar dan menengah di kota [[Takengon]], [[Aceh Tengah]], dia kemudian menetap di [[Kota Medan|Medan]] dan bekerja di beberapa media cetak. Penyair yang telah melahirkan lebih 20 judul buku dan diterbitkan oleh berbagai penerbit di Indonesia ini, sekarang bermukim di [[Jakarta]].
 
Lewat Yayasan Nusantara bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Aceh dia mengeditori (dengan [[Taufiq Ismail]] dan Hasyim.KS) terbitnya antologi sastra budayawan Aceh ''Seulawah'' (1995). Dia juga menjadi penyunting buku antologi puisi penyair Aceh ''Jabal Ghafur 86'' dan ''Aceh dalam puisi'' (2003) serta dua judul lagi yang masih dalam penyelesaian. Pembaca puisi berkarakter ini, banyak terlibat dalam pembuatan buku-buku budaya di berbagai daerah. terakhir ia menggarap puisi-puisi penyair pulau [[Bangka-Belitung]]
 
==== Karya Sastra ====
Karyanya yang sudah terbit:{{br}}
* Angin Laut Tawar (Balai Pustaka, 1969){{br}}
* Namaku Bunga (Balai Pustaka, 1980){{br}}
* Kur Lak Lak (Balai Pustaka, 1982){{br}}
* Pohon Pohon Sahabat Kita (Balai Pustaka, 1984){{br}}
* Catatan Pada Daun (BP, 1986){{br}}
* Dalam Mawar (BP, 1988){{br}}
* Perjalanan Arafah (1994){{br}}
* Si Karmin jadi Ulama{{br}}
* Cerita Rakyat dari Aceh I, (Grasindo, 1995){{br}}
* Cerita Rakyat Aceh II, (Grasindo, 1995){{br}}
* Belajar Berpuisi (Syaamil Bandung 12 Berkenalan Dengan Sastrawan Indonesia dari Aceh (997){{br}}
* Langit Senja Negeri Timah (YN 2004){{br}}
* Seulawah; Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (ed. YN, 1995){{br}}
* Aceh Dalam Puisi (ed. Syaamil, 2003), 16. Pangkal Pinang Berpantun (ed. DKKP, YN, 2004){{br}}
* Pantun Melayu Bangka Selatan (ed. YN, 2004){{br}}
* Pucuk Pauh (ed YN 2004){{br}}
* Syair Tsunami (Balai Pustaka 2006){{br}}
* Puisi Didong Gayo (Balai Pustaka 2006){{br}}
* Tanoh Gayo Dalam Puisi ( YMA, 2006){{br}}
* Kemilau Bener Meriah (YMA, 2006){{br}}
* Ekspressi Puitis Aceh Menghadapi Musibah (BRR 2006){{br}}{{br}}
<b>Puisinya dapat juga ditemukan dalam</b>:{{br}}
* Tonggak, (1995){{br}}
* Horison Sastra Indonesia 1 (2002){{br}}
* Sajadah Kata (Syaamil, 2003){{br}}
 
===== Perjalanan =====
* Mengikuti Kongres Bahasa Melayu Dunia, Kuala Lumpur (1995){{br}}
* Pertemuan Sastrawan Nusantara IX di Kayutanam, Sumatra Barat (1997){{br}}
* Pertemuan Dunia Melayu Dunia Islam, Pangkalpinang, Bangka (2003){{br}}
* Pertemuan Dunia Melayu Islam, Malaka, Malaysia (2004){{br}}
* Mengikuti Festival Kesenian Nasional (Sastra Nusantara) di Mataram NTB (2007){{br}}
 
=== Ibrahim Kader ===
<b>Ibrahim Kadir</b>, ({{lahirmati|Kemili, [[Takengon]]|31|12|1942}}) adalah [[seniman]], [[penyair]], [[koreografer]], dan [[aktor]] yang berasal dari [[Gayo]], [[Aceh Tengah]].
 
Sejumlah karya-karyanya telah memperkaya sastra Gayo. Intensitas dan aktivitasnyapun tidak pernah berhenti sampai usia tua, sehingga namanya dikenal luas oleh masyarakat seni nasional dan internasional. Ia telah menciptakan tidak kurang dari 85 puisi berbahasa Gayo sejak tahun 1953. Ia juga aktor bermain dalam film “Tjoet Nja' Dhien” (1990, Sutradara Eros Djarot), “Puisi Tak Terkuburkan” (2000, Sutradara Garin Nogroho), film dokumenter “Penyair Dari Negeri Linge” (2001, sutradara Aryo Danusiri). Ibrahim Kadir yang bermain sebagai tokoh penyair dalam film “Puisi Tak Terkuburkan” berhasil mendapatkan penghargaan “Silver Screen Award For Best Asian Actor” pada Festival Film Singapura 2001, dan “The Best Actor” dalam Festival Film Cinefan India 2001, serta penghargaan pemeran terbaik ke 2 dalam Festival Film Jokarno Italia 2000.{{br}}
 
Ibrahim Kadir juga dikenal sebagai kreografer tari masal Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke 12 Tingkat Nasional di Banda Aceh 1981, Kreografer MTQ Tingkat Provinsi Aceh 1979, serta penulis dan designer tari masal di Padang Sumatera Barat 1983. Ia menulis buku panduan tentang Tari Guel (1989), dan buku pegangan dosen tentang metode mengajar dan menata tari di Universitas Sumatera Utara.
 
Puis-puisi Ibrahim Kadir terhimpun dalam “Kumpulan Puisi Gayo-Indonesia” 1971, “Datu Beru” (Didong Puisi), “Gentala” (antologi Puisi 1972), “Malem Dewa” (antologi Puisi, 1973) dan “Pembangunan Pesantren Nurul Islam Dalam Untaian Puisi Gayo-Indonesia” tahun 2000.
 
Saat ini Ibrahim Kadir sedang mempersiapkan skenario film yang diberi judul “Tangan Tanpa Jemari,” sejumlah adegan tengah dalam proses pengambilan gambar. Beberapa buku Ibrahim Kadir yang dalam proses cetak adalah; “Sebuku” (seni meratap Gayo), “Nasip Ukiran Gayo, Cerita Rakyat Gayo-Indonesia, Melengkan, Pantun Gayo, Kekitiken, Saer-saer Gayo” dan sejumlah buku lainnya.{{br}}{{br}}
 
==== Filmografi ====
* [[Puisi Tak Terkuburkan]]
* [[Tjoet Nja’ Dhien]]
 
==Asal Usul==
===Takengon===
*WIN WAN NUR[http://winwannur.blogspot.com]{{br}}
<b>Takengon Nama Warisan Hurgronje</b>[http://winwannur.blogspot.com/2009/12/takengon-nama-warisan-hurgronje-yang.html]
 
Takengon, saat ini adalah nama resmi untuk menyebut ibukota Kabupaten Aceh Tengah yang juga kota terbesar di dataran tinggi Gayo. Nama ini dipakai secara resmi entah itu di peta atau untuk menyebut setiap instansi yang ada di kota ini.
 
Entah darimana asal muasalnya dan entah siapa yang memulai membuat teori ini, di Gayo sendiri banyak yang percaya kalau asal-usul nama Takengon adalah berasal dari kata bahasa Gayo "Beta ku engon" yang artinya begitu saya lihat.
 
Sekilas nama ini memang masuk akal, apalagi kalau asal-usul nama itu ditambah dengan cerita sejarah berbau spekulatif yang mengatakan kalau itu adalah ekspresi dari Genali (orang pertama yang dipercaya menemukan kota ini) saat pertama kali melihat danau yang menjadi ciri khgas lansekap kota ini dari salah satu bukit yang mengelilinginya.
 
Ketika berbicara dengan orang dari luar kota ini dan menanyakan asal, orang asal Kota ini memperkenalkan kota asalnya sebagai kota Takengon. Bahkan di kalangan suku-suku Aceh non-Gayo, nama Takengon secara de facto dipakai untuk menggantikan nama Gayo. Di Banda Aceh misalnya, oleh suku-suku Aceh lainnya darimana pun asalnya, "orang Gayo" lebih umum dipanggil sebagai "orang Takengon". Tidak peduli darimanapun asalnya, entah dari Tingkem, Ponok Baru, Ketol, Timang Gajah bahkan Isaq daN Lumut.
 
Berpedoman pada nama Takengon ini pula, di kalangan suku Aceh pesisir berkembang cerita tentang asal usul nama Kota ini, dengan sumber yang lebih tidak jelas lagi juntrungannya. Menurut beberapa orang Aceh pesisir, nama Kota Takengon itu berasal dari kata "Taki Ngon", kata-kata bahasa Aceh yang berarti "menipu teman". Lebih kacau lagi ada juga orang Aceh pesisir yang bilang nama Takengon berasal dari "Tak Ngon", artinya membacok teman. Keduanya sama sekali tidak berkonotasi positif.
 
Tapi anehnya meskipun cerita tentang asal usul nama Kota Takengon versi orang Gayo di atas cukup masuk akal. Tapi orang Gayo sendiri, jika sedang berbicara dalam bahasa Gayo, sama sekali tidak pernah menyebut nama ini dengan nama Takengon. Ketika berbicara dalam bahasa Gayo orang gayo menyebut nama Kota ini dengan nama "Takengen" (huruf "e" pertama dibaca seperti "e" dalam kata "tempe" dan huruf e kedua dibaca seperti "e" dalam kata "sendu"). Pengucapan ini misalnya dapat kita dengar dalam lirik sebuah lagu Gayo legendaris karangan seniman besar almarhum AR Moese " Kin Takengen aku denem", bukan "Kin Takengon aku denem".
 
Berdasarkan fakta inilah saya berpendapat bahwa nama asli kota kelahiran saya ini adalah TAKENGEN bukan TAKENGON. Nama Takengen sendiri saya yakin berasal dari kata dalam bahasa Gayo yang dibentuk dari kata dasar "Takeng" dan akhiran "en". Kemungkinan ini adalah bahasa Gayo lama yang karena seperti banyak bahasa daerah lainnya bukanlah bahasa tertulis, kata-kata lama tersebut sudah banyak yang hilang digantikan kata-kata serapan baru dan tidak diketahui lagi artinya. Apalagi dalam berbahasa orang Gayo cepat sekali terpengaruh terhadap ungkapan-ungkapan baru. Baca : [[http://winwannur.blogspot.com/2008/12/takengen-setelah-10-tahun.html]]
 
Dalam bahasa Gayo akhiran "en" digunakan untuk menjelaskan tempat dilakukannya sebuah aktifitas. Misalnya "perempusen" yang berarti tempat berempus (berkebun), pelipenen yang berarti tempat berlipe (menyeberang sungai), peruweren yang berarti tempat beruwer (mengandangkan kerbau), Didisen yang tempat melakukan aktifitas Berdidis (menangkap ikan depik yang memijah di pinggir danau). Begitulah, dengan mengikuti pola yang sama seperti pembentukan kata-kata di atas, maka Takengen maksudnya adalah tempat melakukan aktifitas "bertakeng" yang entah apa artinya.
 
Seperti yang sudah saya ungkapkan di atas bahwa di kota kelahiran atau di tempat lain di dataran tinggi Gayo, orang Gayo hanya menyebut nama Takengon ketika mereka sedang berbicara dalam bahasa melayu, baik itu ketika berbicara dengan suku-suku Non-Gayo atau sesama orang Gayo sendiri.
 
Kebiasaan penyebutan nama Takengon ini bermula nama ini telah dilekatkan pada kota ini oleh pemerintah kolonial Belanda. Di samping itu saya pikir, penyebutan nama Takengon menjadi semakin kuat dan melekat dan dijadikan nama resmi kota ini oleh orang Gayo sendiri tidak lain karena masalah prestise. Dibanding nama Takengen (Nama kota ini ketika diucapkan dalam bahasa Gayo), di telinga orang Gayo nama Takengon (Nama Kota ini ketika diucapkan dalam bahasa Melayu) terdengar lebih keren.
 
Terbentuknya pola prestise seperti ini dalam masyarakat Gayo tidak bisa dilepaskan dari peristiwa merebaknya euforia modernisme di kota kecil kelahiran saya ini pada masa awal kemerdekaan dulu.
 
Pada masa itu, di negeri saya, modernisme kurang lebih dipahami sebagai segala sesuatu yang berbau 'luar'. Entah itu cara beragama, cara bersikap, bentuk rumah tinggal, cara berpakaian sampai penggunaan bahasa saat berbicara.
 
Praktek keagamaan misalnya, praktek lama yang banyak mengamodasi praktek-praktek religius lokal (kaum tue) diangap tidak modern dan kuno, karenanya praktek keagamaan ala "kaum tue" ini tidak begitu populer di kota ini.
 
Sejak masa awal kemerdekaan para pemeluk Islam yang tinggal di kota kelahiran saya lebih banyak menganut faham yang dipengaruhi oleh pemikiran Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh yang dibawa ke kota ini oleh anggota Muhammadiyah yang belajar di Minang dan orang Gayo yang belajar Islam di perguruan Al Irsyad Surabaya . Di banding "kaum tue", paham yang disebut "kaum mude" ini lebih tegas membatasi praktek-praktek keagamaan yang diadopsi dari kebiasaan pra Islam. Paham ini disebut 'Kaum Mude".
 
Untuk rumah tinggal, pada masa itu, semua "Umah pitu ruang" (rumah adat Gayo) di kota kelahiran saya ini dihancurkan untuk diganti dengan rumah-rumah kayu modern, berbentuk ruko yang bertingkat dua. Di beberapa tempat, seperti daerah pasar pagi dan Bebesen, "rumah-rumah modern" yang menggantikan "Umah pitu ruang" ini masih bisa kita saksikan sampai hari ini.
 
Dalam hal berpakaian, demi modernitas, pakaian adat lama juga ditinggalkan dan diganti dengan pakaian modern, untuk mempertegas ditinggalkannya cara hidup lama itu, di Blang Kejeren, para perempuan membakar pakaian adat gayo di depan umum (Bowen 1991: 112).
 
Perilaku berbahasa juga demikian, bahasa melayu yang menjadi bahasa nasional di negara ini pun naik kasta menjadi bahasa yang memiliki status lebih tinggi dibanding bahasa Gayo yang merupakan bahasa sehari-hari orang-orang yang tinggal di daerah ini.
 
Sebagaimana paham 'kaum mude", rumah berbentuk ruko dan pakaian ala barat. Oleh masyarakat yang tinggal di kota kelahiran saya ini, penguasaan bahasa Melayu dianggap sebagai cermin modernitas. Secara umum masyarakat memandang status keluarga yang dalam keseharian berbicara dalam bahasa Melayu lebih tinggi dibanding orang yang dalam keluarganya berbicara dalam bahasa Gayo. Dalam pandangan masyarakat kota ini, orang yang dalam keseharian berbicara dalam bahasa melayu terkesan lebih terpelajar.
 
Cara pandang seperti inilah yang membuat penyebutan nama Takengon terdengar lebih keren dibanding nama Takengen.
 
Begitulah yang terjadi di Gayo pasca hengkangnya penjajah kolonial, tapi itu semua tidak menjawab asal usul nama Takengon.
 
Tapi, asal-usul nama TAKENGON akan terlihat sangat jelas jika kita membaca "Het Gajoland en Zijne Bewoners" (Tanah Gayo dan penduduknya) sebuah karya antropologis dari Christian Snouck Hurgronje, seorang sarjana Belanda dari Universitas Leiden yang menulis tesis tentang Haji yang memulai pendidikannya di bidang Teologi dan kemudian mengalihkan studinya kepada studi bahasa Arab dan Islam.
 
C.Snouck Hurgronje sempat belajar di Mekkah selama 5 bulan, mengganti agamanya menjadi Islam dan mengganti namanya menjadi Abdul al Ghaffar (Waardenburg 1962:19).
 
Tahun 1889 Hurgronje meninggalkan Belanda menuju Batavia dan 2 tahun kemudian dia diminta oleh pemerintah Belanda untuk menjadi penasehat politik dan militer Belanda di Aceh.
 
Atas nasehat Hurgronje inilah Gubernur Belanda J. Van Heutz, merekrut Ulee Balang (priyayi Aceh) untuk berkoalisi melawan Ulama yang oleh belanda dianggap sebagai pusat kekuatan perlawanan Aceh (van' t Veer 1980).
 
Pada tahun 1900 Hurgronje mulai mengumpulkan informasi tentang Gayo dari orang-orang Gayo yang dia temui di pantai barat Aceh. Hurgronje yang sampai akhir hayatnya tidak pernah menginjakkan kaki di Tanoh Gayo, mendapatkan kebanyakan informasinya tentang Gayo dari seorang pemuda cerdas asal Isaq bernama Njaq Putih yang saat itu sedang belajar agama di Aceh Barat dan pada tahun 1902, Hurgronje mendapat satu lagi nara sumber tentang Gayo yang bernama Aman Ratus yang berasal dari Gayo Lues.
 
Pada tahun 1903, Hurgronje yang dianggap Penghianat Besar Islam oleh orang Aceh dan Orang Gayo tapi dianggap pahlawan oleh pemerintah Belanda ini menyelesaikan Het Gajoland en Zijne Bewoners. Dalam buku ini Hurgronje memaparkan permasalahan perpolitikan dan militer di Gayo, jalan-jalan yang mlintasi daerah Gayo, lokasi desa dan dusun serta kekuasaan yang dimiliki setiap pemimpin kelompok di Gayo. Dalam buku ini Hurgronje juga memaparkan banyak informasi tentanga nama -nama tempat, benda yang kita lihat sehari-hari, praktek keagamaan dan budaya sehari-hari orang Gayo.
 
Dalam menjelaskan nama-nama ini, sepertinya lidah eropa Hurgronje kesulitan menyebut nama-nama yang mengandung bunyi "e" seperti bunyi "e" dalam kata "sendu" . Dalam buku Het Gajoland en Zijne Bewoners, semua kata yang mengandung bunyi "e" ini oleh Hurgronje diganti dengan "O".
 
Mengenai ini bisa dilihat di buku Het Gajoland en Zijne Bewoners yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tanah Gayo dan Penduduknya yang diterbitkan oleh Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS) pada tahun 1996.
 
Dalam buku ini kita bisa membaca di halaman 66 misalnya, oleh Hurgronje, kata "reje" disebut "rojo", "edet" menjadi "odot", "Tue" menjadi "Tuo", "saudere" menjadi "saudoro", "bedel" menjadi "bodol", "imem" menjadi "imom" dan "kerje" menjadi "kerjo".
 
Demikian juga dengan nama tempat sebagaimana nama TAKENGEN. Dalam buku ini Hurgronje mengubah nama itu menjadi TAKENGON.
 
Bukan hanya TAKENGON, tapi semua nama tempat lain yang mengandung bunyi "e" seperti bunyi "e" dalam kata "sendu" juga bernasib sama. Sebut saja misalnya Bebesen yang oleh Hurgronje diubah menjadi Bobasan (hal 17), Serbejadi menjadi Serbojadi (hal 10), Gayo Lues menjadi Gayo Luos (hal 9), Arul Ramasen menjadi Arul Ramason (hal 13), Kute Glime menjadi Kuto Glimo (hal 17), Oneng Niken menjadi Oneng Nikon (hal 21), Peruweren Tulen menjadi Peruworon Tulon (hal 29), Linge menjadi Linggo (hal 29), Ise-ise menjadi Iso-iso (hal 34), Blang Gele menjadi Blang Golo (hal 132), Reje Buket menjadi Rojo Buket (hal 141), Teungku Uyem menjadi Teungku (Uyom 144), Tami Delem menjadi Tami Dolom (hal 144), Paya Reje menjadi Paya Rojo (hal 144), Serule menjadi Serulo (hal 144), Menye menjadi Monyo (hal 152), Tingkem menjadi Tingkom (hal 154) dan banyak lagi.
 
Begitulah, soal nama-nama tempat di Gayo yang dimodifikasi oleh Hurgronje ini.
 
Belakangan ini saya melihat banyak orang Gayo yang begitu gencar untuk menunjukkan kembali identitas diri dan menggali kembali akar asal-usulnya. Sampai-sampai ada ide untuk membuat provinsi sendiri segala.
 
Tapi Ironisnya orang Gayo yang katanya sangat mencintai budayanya ini, yang katanya sangat Islami ini justru bangga memakai nama hasil modifikasi seorang pengkhianat besar Islam sebagai nama kota kebanggaannya.
 
Sejauh ini, saya sama sekali tidak melihat tokoh-tokoh Gayo, baik yang muda apalagi yang tua yang merasa terganggu dengan asal-usul nama TAKENGON yang sampai hari ini melekat menjadi nama kota kebanggaan orang Gayo ini. Sepanjang yang saya tahu, SAMPAI HARI INI hanya sayalah satu-satunya orang Gayo yang merasa terganggu dengan nama yang 'dihadiahkan' oleh Hurgronje kepada Kota Kelahiran saya tersebut.
 
Karena merasa terganggu, makanya dalam setiap tulisan saya yang menceritakan kota ini, saya selalu menyebut kota ini dengan nama TAKENGEN yang merupakan nama pemberian muyang datu saya, bukan TAKENGON yang merupakan 'hadiah' dari Hurgronje.
 
Wassalam
 
Win Wan Nur
Orang Gayo yang Lahir di TAKENGEN -->
 
== Rujukan ==
* Sosok [http://buntulkubu.net/salman.htm]
== Rujukan ==
=== Sumber ===
{{reflist}}
 
=== Pautan luar ===
*{{id}} [http://www.acehtengahkab.go.id Situs resmi]
 
=== Lihat juga ===
*{{id}} [http://id.wikipedia.org/wiki/Takengon Takengon]
*{{id}} [http://www.youtube.com/watch?v=4rdrfsz5Lk0 Didong gayo]
 
== Pautan luar ==
*{{id}} [http://www.acehtengahkab.go.id Tapak rasmi]
 
{{Kabupaten Aceh Tengah}}
[[Kategori:Kabupaten di Indonesia|Aceh Tengah]]
[[Kategori:Kabupaten Aceh Tengah| ]]
 
 
[[ace:Kabupaten Acèh Teungoh]]
65,412

suntingan