Perbezaan antara semakan "Kerinci"

115 bait ditambah ,  7 tahun lalu
tiada ringkasan suntingan
----
 
'''Kerinci''' atau juga dikenali sebagai Kerinchi, Kerintji, Kinchai [KVR] 300,000 ([[1989]]). terletak di pergunungan barat sekitar Sungaipenuh dan utara dan barat. Penduduknya terdiri dari Austronesian[[Austronesia]], Malayo-Polynesian[[Polynesia]], Western Malayo-PolynesianPolynesia, Sundic, Malayic, Malayan, Melayu. Penduduknya bertutur dalam loghat dialek: Ulu, Mamaq, Akit, [[Talang]], Sakei. Daerah dari dialek [[Kerinci]]-[[Minangkabau]] di [[Minangkabau]].
<br />
 
'''Kabupaten Kerinci''' adalah salah satu [[kabupaten]] di [[Provinsi]] [[Jambi]]. Luas wilayahnya 4.200 km&sup2; dengan populasi 300,000 penduduk. Ibu kotanya ialah [[Sungai Penuh, Kerinci|Sungai Penuh]].
<br />
 
== Nama Kerinci ==
 
Nama ‘Kerinci’ berasal dari bahasa Tamil “Kurinci”. Tanah Tamil dapat dibagi menjadi empat kawasan yang dinamakan menurut bunga yang khas untuk masing-masing daerah. Bunga yang khas untuk daerah pegunungan ialah bunga '''Kurinci''' (Latin ''Strobilanthus''. Dengan demikian Kurinci juga bererti 'kawasan pegunungan'.
<br />
 
Di zaman dahulu Sumatra dikenal dengan istilah Swarnadwipa atau Swarnabhumi (tanah atau pulau emas). Kala itu Kerinci, Lebong dan Minangkabau menjadi wilayah penghasil [[emas]] utama di Indonesia (walaupun kebanyakan sumber emas terdapat di luar Kabupaten Kerinci di daerah Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin). Di daerah Kerinci banyak ditemukan batu-batuan [[Megalitik]]Megalithicum dari zaman Gangsa (Bronze Age) dengan pengaruh [[Buddha]] termasuk keramik Tiongkok. Hal ini menunjukkan wilayah ini telah banyak berhubungan dengan dunia luar.
<br />
 
Awalnya ‘Kerinci’ adalah nama sebuah gunung dan danau (tasik), tetapi kemudian wilayah yang berada di sekitarnya disebut dengan nama yang sama. Dengan begitu daerahnya disebut sebagai Kerinci (“Kurinchai” atau “Kunchai” atau “Kinchai” dalam bahasa setempat), dan penduduknya pun disebut sebagai orang Kerinci.
 
Menurut Tambo Alam Minangkabau, Daerah Rantau Pesisir Barat (Pasisie Barek) pada masa Kerajaan Alam Minangkabau meliputi wilayah-wilayah sepanjang pesisir barat Sumatra bahagian tengah mulai dari Sikilang Air Bangis, Tiku Pariaman, Padang, Bandar Sepuluh, Air Haji, Inderapura, Muko-muko (Bengkulu) dan Kerinci. Dengan demikian Kerinci merupakan daerah Minangkabau.
<br />
 
Pada waktu Indonesia merdeka, Sumatera bahagian tengah mulai dipecah menjadi 3 provinsi:
<br />
 
# [[Sumatera Barat]] (meliputi daerah Minangkabau)
# [[Riau]] (meliputi wilayah kesultanan Siak, Pelalawan,Rokan,Indragiri, Riau-Lingga ditambah Rantau Minangkabau Kampar dan Kuantan)
# [[Jambi]] (meliputi bekas wilayah kesultanan Jambi ditambah Rantau Minangkabau Kerinci)
<br />
 
Dengan demikian sebenarnya Orang Kerinci hidup dengan budaya Minangkabau namun menjadi orang Jambi.
<br />
 
== Letak Kerinci ==
 
Kerinci berada di ujung barat [[Provinsi]] [[Jambi]], berbatasan dengan [[Provinsi]] [[Sumatera Barat]] ([[Minangkabau]]) di sebagian [[barat]] dan [[utara]]. Di selatan mereka berbatasan dengan [[Provinsi]] [[Bengkulu]].
<br />
 
Daerah Kerinci ditetapkan sebagai sebuah [[Kabupaten]] sejak awal berdirinya Provinsi Jambi, dengan pusat [[pemerintahan]] di [[Sungai Penuh, Kerinci|Sungai Penuh]]. Daerah Kerinci memiliki luas 4.200 km2 terdiri atas 11 kecamatan (yang merupakan rangkaian kampung atau pemukimam). [[Statistik]] tahun [[1996]] menunjukkan populasi suku Kerinci sekitar 300.000 jiwa.
<br />
 
== Budaya Kerinci ==
 
Budaya Kerinci sangat khas. Tari-tariannya adat merupakan campuran [[Minangkabau]] dan Kerinci serta [[Melayu]]. Misalnya, Tari Joged Sitinjau Laut. Lagu-lagu Kerinci juga terkenal unik. Pakaian adatnya juga sangat indah. Rumah [[suku]] Kerinci disebut "Larik" karena terdiri dari beberapa deretan rumah petak yang bersambung-sambung. Di Jambi, Kerinci adalah satu-satunya wilayah yang menganut adat Perpatih Minangkabau (''Matrilineal'').
<br />
 
== Bahasa Kerinci ==
 
Bahasa Kerinci termasuk salah satu anak cabang bahasa [[Austronesia]] yang dituturkan dengan [[dialek]] Kerinci. Bagi masyarakat bagian pesisir barat [[Minangkabau]], Bahasa Kerinci tidak begitu asing, namun menjadi agak aneh bagi orang daerah lain di Jambi yang condong ke [[Melayu]] [[Palembang]] dan [[Melayu]] [[Riau]]. Salah satu yang khas dari dialek Kerinci di antaranya adalah melafalkan ‘i’ menjadi ‘''ai''’ misal: ‘Orang Kerinci pergi ke Jambi’ diucapkan ‘''Uhang Kinchai lalau ka Jamboi''’, atau melafalkan ‘a’ menjadi ‘ea’ atau ‘oi’ misal : "bila" menjadi "''bilea''", "atas menjadi "''atoih''", "Tadi menjadi "''tadoih''".
<br />
 
Ada lebih dari 30 dialek bahasa yang berbeda di tiap-tiap desa di daerah Kerinci. Seperti pengucapan 'Anda', di Desa Lempur (Kec. Gunung Raya) diucapakan dengan "''Kaya''" sedangkan di Kec. Sungai Penuh diucapakan dengan "''Kayo''". Perbedaan dialek ini juga ditandai dengan dengan perbedaan budaya yang ada di masing-masing desa di Kerinci.
<br />
 
{{Kabupaten Kerinci}}
14

suntingan