Perbezaan antara semakan "Sutan Syahrir"

179 bait ditambah ,  7 bulan lalu
tiada ringkasan suntingan
(Pengembangan besar sebahagiannya hasil pengembalian dan penyejagatan kandungan bahasa Melayu Indonesia)
| signature =Sutan Sjahrir signature.jpg
}}
'''Sutan Syahrir''', juga dieja sebagai '''Soetan Sjahrir''' ({{kelahirankematian|[[Kota5 PadangMac Panjang|Padang1909 Panjang]],–  [[Sumatera9 Barat]]|5|3|1909|[[Zürich]],April 1966) ialah seorang cendekiawan dan negarawan [[Switzerlandrevolusioner]]|9|4|1966}}) ialahIndonesia selaku [[Perdana Menteri Indonesia|Perdana Menteri]] [[Indonesia|Republik Indonesia]] yang pertama tahun 1945, selepas kerjaya sebagai penganjur utama nasionalis Indonesia dalam tahun 1930-an dan 1940-an. Beliau adalah seorang avant garde dan intelektual idealistik Indonesia,<ref>Anwar, Rosihan (2010) ''Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan'' (“Sutan Sjahrir: True Democrat, Fighter for Humanity”)[http://www.thejakartaglobe.com/arts/remembering-sutan-sjahrir/366483]</ref> danSutan seorangSjahrir: pemimpinDemokrat kemerdekaanSejati, yangPejuang revolusioner. Beliau adalah bekas Ketua [[Parti Sosialis IndonesiaKemanusiaan]] (PSI). Beliau juga pernah mengetuai perwakilan Republik Indonesia untuk Perundingan Linggarjati.''</ref>{{sfn|Dotulong|2010|p=}}
 
Beliau adalah bekas Ketua [[Parti Sosialis Indonesia]] (PSI). Beliau juga pernah mengetuai perwakilan Republik Indonesia untuk Perundingan Linggarjati. Namun, beliau ditahan atas kedudukanya mengancam Sukarno; beliau meninggal dunia di [[Zürich]], [[Switzerland]] semasa mendapatkan rawatan dalam buangan.{{sfn|Dotulong|2010|p=}}
Beliau meninggal dunia di [[Zürich]], [[Switzerland]], dan dimakamkan di [[Taman Makam Pahlawan Kalibata]], [[Jakarta]].
 
== Awal hidup ==
Syahrir lahir di [[Padang Panjang]], [[Sumatera Barat]] pada 5 Mac 1909{{sfn|Azizah Etek ''et al''|2007|p=131}}{{sfn|Cribb & Kahin|2004|p=393}} Beliau anak sulung dua adik beradik dalam suatu keluarga [[Minangkabau]] hasil perkahwinan Puti Siti Rabiah dan Mohammad Rasad gelar Maharaja Soetan bin Soetan Leman gelar Soetan Palindih; ayahnya Mohammad Rasad menjawat sebagai penasehat [[sultan Deli]] dan ketua hakim atau "kepala jaksa" (''landraad'') di [[Kota Medan|Medan]]. Syahrir juga mempunyai seorang adik iaitu [[Soetan Sjahsam]], seorang ''makelar'' saham pribumi paling berpengalaman di masanya.<ref>https://tirto.id/rumitnya-kisah-asmara-sutan-sjahrir-dan-maria-duchateau-cFTX</ref> Syahrir bersaudara seayah dengan [[Rohana Kudus]], aktivis serta wartawan wanita yang terkemuka. Keluarga mereka mendiami [[Koto Gadang, IV Koto, Agam|Koto Gadang]] di [[Kabupaten Agam|Agam]].<ref>[http://www.sutansjahrir.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5&Itemid=6 situs Sutan Sjahrir.com]</ref>
 
=== Pendidikan ===
Pengujung tahun 1931, Syahrir meninggalkan kampusnya untuk kembali ke tanah air dan terjun dalam pergerakan nasional. Syahrir segera bergabung dalam organisasi Partai Nasional Indonesia (PNI Baru), yang pada Jun 1932 diketuainya. Pengalaman mencemplungkan diri dalam dunia proletar beliau praktikkan di tanah air. Syahrir terjun dalam pergerakan buruh. Beliau memuat banyak tulisannya tentang perburuhan dalam Daulat Rakyat. Beliau juga kerap berbicara perihal pergerakan buruh dalam forum-forum politik. [[Mei 1933]], Syahrir didaulat menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia.
 
Hatta kemudian kembali ke tanah air pada Ogos 1932, segera pula beliau memimpin PNI Baru. Bersama Hatta, Syahrir mengemudikan PNI Baru sebagai organisasi pencetak kader-kader pergerakan. Berdasarkan analisis pemerintahan kolonial Belanda, gerakan politik Hatta dan Syahrir dalam PNI Baru justeru lebih radikal tinimbang Soekarno dengan PNI-nya yang mengandalkan mobilisasi massa. PNI Baru, menurut polisi kolonial, cukup sebanding dengan organisasi Barat. Meskipun PNI tidak menggunakan kaedah pemaksaan, mereka lama-kelamaan mendidik kader-kader pergerakan yang berkesannya siap bergerak ke arah tujuan revolusionernya.
PNI Baru, menurut polisi kolonial, cukup sebanding dengan organisasi Barat. Meskipun PNI tidak menggunakan kaedah pemaksaan, mereka lama-kelamaan mendidik kader-kader pergerakan yang berkesannya siap bergerak ke arah tujuan revolusionernya.
 
KarenaKerana takut akan potensi revolusioner PNI Baru, pada Februari 1934, pemerintah kolonial Belanda menangkap, memenjarakan, kemudian membuang Syahrir, Hatta, dan beberapa pemimpin PNI Baru ke [[Boven-Digoel]]. Hampir setahun dalam kawasan malaria di Papua itu, Hatta dan Syahrir dipindahkan ke [[Banda Neira]] untuk menjalani masa pembuangan selama enam tahun.
 
== Masa pendudukan Jepun ==
Sementara Soekarno dan Hatta menjalin kerjasama dengan [[Empayar Jepun|Jepun]], Syahrir membangun jaringan gerakan [[Anti-fasisme|anti-fasis]] dengan keyakinan bahawa Jepun tak mungkin memenangkan perang, oleh kerana itu, kaum pergerakan mesti menyiapkan diri untuk merebut kemerdekaan di saat yang tepat. Simpul-simpul jaringan gerakan bawah tanah kelompok Syahrir adalah kader-kader PNI Baru yang tetap meneruskan pergerakan dan kader-kader muda yakni para mahasiswa progresif.
 
Sastra, seorang tokoh senior pergerakan buruh yang akrab dengan Syahrir, menulis:
{{cquote|Di bawah kepemimpinan Syahrir, kami bergerak di bawah tanah, menyusun kekuatan subjektif, sambil menunggu perkembangan situasi objektif dan tibanya saat-saat psikologis untuk merebut kekuasaan dan kemerdekaan.}}
 
Situasi objektif itu pun makin terang ketika Jepun makin terdesak oleh pasukan Sekutu. Syahrir mengetahui perkembangan Perang Dunia dengan cara sembunyi-sembunyi mendengarkan berita dari stasiun radio luar negeri. Kala itu, semua radio tak bisaboleh menangkap berita luar negeri kerana disegel oleh Jepun. Berita-berita tersebut kemudian beliau sampaikan ke Hatta. Sembari itu, Syahrir menyiapkan gerakan bawah tanah untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepun.
 
Syahrir yang didukung para pemuda mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 15 Ogos kerana Jepun sudah menyerah, Syahrir siap dengan massa gerakan bawah tanah untuk melancarkan aksi perebutan kekuasaan sebagai simbol dukungan rakyat. Soekarno dan Hatta yang belum mengetahui berita menyerahnya Jepun, tidak merespon secara positif. Mereka menunggu keterangan dari pihak Jepun yang ada di Indonesia, dan proklamasi itu mesti sesuai prosedur lewat keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk oleh Jepun. Sesuai rencana PPKI, kemerdekaan akan diproklamasikan pada 24 September 1945.
 
Sikap Soekarno dan Hatta tersebut mengecewakan para pemuda, sebab sikap itu berisiko menyebabkan kemerdekaan RI dinilai sebagai hadiah Jepun danlalu RIkemerdekaan adalahIndonesia dianggap hasil buatan Jepun. Guna mendesak lebih keras, para pemuda pun menculik Soekarno dan Hatta pada 16 Ogos. Akhirnya, Soekarno dan Hatta [[Proklamasi Kemerdekaan Indonesia|memproklamasikan kemerdekaan RIIndonesia]] pada 17 Ogos.
 
== Zaman Revolusi ==
Revolusi menciptakan atmosferpersekitaran amarah dan ketakutan, kerana itu sulit untuk berpikir jernih. Sehingga sedikit sekali tokoh yang punya konsep dan langkah strategisstrategik meyakinkan guna mengendalikan kecamuk revolusi. Saat itu, ada dua orang dengan pemikirannya yang populer kemudian dianut banyak kalangan pejuang republik: Tan Malaka dan Sutan Syahrir. Dua tokoh pergerakan kemerdekaan yang dinilai steril dari noda kolaborasi dengan Pemerintahan Fasis Jepun, meski kemudian bertentangan jalan dalam memperjuangan kedaulatan republik.
 
Pada masa genting itu, Bung Syahrir menulis ''Perjuangan Kita''. Sebuah risalah peta persoalan dalam revolusi Indonesia, sekaligus analisis ekonomi-politik dunia usai [[Perang Dunia IIKedua]]. ''PerjunganPerjuangan Kita'' muncul menyentak kesadarankesedaran. Risalah itu ibarat pedoman dan peta guna mengemudikan kapal Republik Indonesia di tengah badai revolusi.
 
Tulisan-tulisan Syahrir dalam ''[[Perjuangan Kita]]'', membuatnya tampak berseberangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan, Syahrir justeru menulis, "Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan kerana itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan."
 
== Penculikan ==
Penculikan Perdana Menteri Sjahrir merupakan peristiwa yang terjadi pada 26 Jun 1946 di [[Kota Surakarta|Surakarta]] oleh kelompok oposisi [[Persatuan Perjuangan]] yang tidak puas atas diplomasi yang dilakukan oleh pemerintahan [[Kabinet Sjahrir II]] dengan [[Belanda|pemerintah Belanda]] kerana sangat merugikan perjuangan Bangsa Indonesia saat itu. Kelompok ini menginginkan pengakuan kedaulatan penuh (Merdeka 100%) yang dicetuskan oleh [[Tan Malaka]]. Sedangkan kabinet yang berkuasa hanya menuntut pengakuan kedaulatan atas [[Jawa]] dan [[Pulau Madura|Madura]]. Kelompok Persatuan Perjuangan ini dipimpin oleh Mayor Jendral Soedarsono dan 14 pimpinan sipil, di antaranya [[Tan Malaka]] dari Persatuan Perjuangan bersama dengan Panglima besar Jendral sudirman. Perdana Menteri Sjahrir ditahan di suatu rumah peristirahatan di Paras.
 
Presiden [[Soekarno]] sangat marah atas aksi penculikan ini dan memerintahkan Polisi Surakarta menangkap para pimpinan kelompok tersebut. Tanggal 1 Julai 1946, ke-14 pimpinan berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan. Pada hari berikutnya, tentara Divisi 3 pimpinan Mayor Jendral [[Soedarsono]] menyerbu penjara Wirogunan dan membebaskan kesemua 14 orang diculik. Soekarno marah mendengar penyerbuan penjara dan memerintahkan Letnan Kolonel [[Soeharto]], pimpinan tentara di Surakarta, untuk menangkap Mayjen Soedarsono dan pimpinan penculikan. Lt. Kol. Soeharto menolak perintah ini kerana dia tidak mau menangkap pimpinan/atasannya sendiri. Dia hanya mau menangkap para pemberontak kalau ada perintah langsung dari Kepala Staf militer RI, Jendral Soedirman. Presiden Soekarno sangat marah atas penolakan ini dan menjuluki Lt. Kol. Soeharto sebagai perwira keras kepala (''koppig'').
Kelompok Persatuan Perjuangan ini dipimpin oleh Mayor Jendral Soedarsono dan 14 pimpinan sipil, di antaranya [[Tan Malaka]] dari Persatuan Perjuangan bersama dengan Panglima besar Jendral sudirman. Perdana Menteri Sjahrir ditahan di suatu rumah peristirahatan di Paras.
 
Presiden [[Soekarno]] sangat marah atas aksi penculikan ini dan memerintahkan Polisi Surakarta menangkap para pimpinan kelompok tersebut. Tanggal 1 Julai 1946, ke-14 pimpinan berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan. Pada hari berikutnya, tentara Divisi 3 pimpinan Mayor Jendral [[Soedarsono]] menyerbu penjara Wirogunan dan membebaskan kesemua 14 orang diculik.
 
Presiden Soekarno marah mendengar penyerbuan penjara dan memerintahkan Letnan Kolonel [[Soeharto]], pimpinan tentara di Surakarta, untuk menangkap Mayjen Soedarsono dan pimpinan penculikan. Lt. Kol. Soeharto menolak perintah ini kerana dia tidak mau menangkap pimpinan/atasannya sendiri. Dia hanya mau menangkap para pemberontak kalau ada perintah langsung dari Kepala Staf militer RI, Jendral Soedirman. Presiden Soekarno sangat marah atas penolakan ini dan menjuluki Lt. Kol. Soeharto sebagai perwira keras kepala (''koppig'').
 
Lt. Kol. Soeharto berpura-pura bersimpati pada pemberontakan dan menawarkan perlindungan pada Mayjen Soedarsono dan kesemua bekas tebusan di markas resimen tentara di Wiyoro. Malam harinya Lt. Kol. Soeharto memujuk Mayjen Soedarsono dan para pimpinan pemberontak untuk menghadap Presiden RI di Istana Presiden di Jogyakarta. Secara rahasia, Lt. Kol. Soeharto juga menghubungi pasukan pengawal Presiden dan memberitahukan rencana kedatangan Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak.
 
Tanggal [[3 Juli|3 Julai]] 1946, Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak berhasil dilucuti senjatanya dan ditangkap di dekat Istana Presiden di [[Kota Yogyakarta|Yogyakarta]] oleh pasukan pengawal presiden. Peristiwa ini lalu dikenal sebagai [[Peristiwa 3 Juli 1946|pemberontakan 3 Julai 1946]] yang gagal.
 
== Diplomasi Syahrir ==
[[File:Soetan Sjahrir 1969 Indonesia stamp.jpg|thumb|Perangko Sutan Syahrir 15 Rupiah edisi tahun 1969]]
Setelah kejadian penculikan Syahrir hanya bertugas sebagai Menteri Luar Negeri, tugas sebagai Perdana Menteri diambil alih Presiden Soekarno. Namun pada tanggal [[2 Oktober]] [[1946]], Presiden menunjuk kembali Syahrir sebagai Perdana Menteri agar dapat melanjutkan [[Perundingan Linggarjati]] yang akhirnya ditandatangani pada [[15 November]] [[1946]].
 
Tanpa Syahrir, Soekarno bisaboleh terbakar dalam lautan api yang telah beliau nyalakan. Sebaliknya, sulit dibantah bahawa tanpa Bung Karno, Syahrir tidak berdaya apa-apa. Syahrir mengakui bahawa Soekarnolah pemimpin republik yang diakui rakyat. Soekarno-lah pemersatu bangsa Indonesia. Kerana agitasinya yang menggelora, rakyat di bekas teritori Hindia Belanda mendukung revolusi. Kendati demikian, kekuatan raksasa yang sudah dihidupkan Soekarno harus dibendung untuk kemudian diarahkan secara benar, agar tenaga itu tak meluap dan justeru merosak. Sebagaimana hujahan Bung Hatta bahawa revolusi mesti dikendalikan; tak mungkin revolusi berjalan terlalu lama, revolusi yang menggoncang ‘sendi’ dan ‘pasak’ masyarakat jika tak dikendalikan maka akan meruntuhkan seluruh ‘bangunan’.
 
Agar Republik Indonesia tak runtuh dan perjuangan rakyat tak menampilkan wajah bengis, Syahrir menjalankan siasatnya. Di pemerintahan, sebagai ketua Badan Pekerja [[Komite Nasional Indonesia Pusat]] (BP KNIP), beliau menjadimengubah arsitekkabinet perubahanIndonesia Kabinetyang Presidensilsebelumnya [[Sistem berpresiden|berpresiden]] menjadi Kabinetsistem Parlementer[[Sistem yangberparlimen|berparlimen]] bertanggungyang jawabbertanggungjawab kepada KNIP sebagai lembaga yang mempunyai fungsi legislatif. RI pun menganut sistem multipartai. Tatanan pemerintahan tersebut sesuai dengan arus politik pasca-Perang Dunia IIKedua, yakni kemenangan demokrasi atas fasisme. Kepada massa rakyat, Syahrir selalu menyerukan nilai-nilai kemanusiaan dan anti-kekerasan.
Syahrir mengakui Soekarno-lah pemimpin republik yang diakui rakyat. Soekarno-lah pemersatu bangsa Indonesia. Karena agitasinya yang menggelora, rakyat di bekas teritori Hindia Belanda mendukung revolusi. Kendati demikian, kekuatan raksasa yang sudah dihidupkan Soekarno harus dibendung untuk kemudian diarahkan secara benar, agar energi itu tak meluap dan justeru merusak.
 
Dengan siasat-siasat tadi, Syahrir menunjukkan kepada dunia internasional bahawa revolusi Republik Indonesia adalah perjuangan suatu bangsa yang beradab dan demokratis di tengah suasana kebangkitan bangsa-bangsa melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme pasca-Perang Dunia IIKedua. Pihak Belanda kerap melakukan propaganda bahawa orang-orang di Indonesia merupakan gerombolan yang brutal, suka membunuh, merampok, menculik, dll. KarenaKerana itu sah bagi Belanda, melalui NICA, menegakkan tertib sosial sebagaimana kondisi Hindia Belanda sebelum Perang Dunia IIKedua. Mematahkan propaganda itu, Syahrir menginisiasimemulakan penyelenggaraan pameran kesenian yang kemudian diliput dan dipublikasikandikhabarkan oleh para wartawan luar negeri.
Sebagaimana argumen Bung Hatta bahawa revolusi mesti dikendalikan; tak mungkin revolusi berjalan terlalu lama, revolusi yang mengguncang ‘sendi’ dan ‘pasak’ masyarakat jika tak dikendalikan maka akan meruntuhkan seluruh ‘bangunan’.
 
Ada satu cerita perihal sikap konsekuen pribadi Syahrir yang anti-kekerasan. Di pengujung DesemberDisember 1946, Perdana Menteri Syahrir dicegat dan ditodong pistol oleh serdadu NICA. Saat serdadu itu menarik pelatuk, pistolnya macet. KarenaKerana geram, dipukullah Syahrir dengan gagang pistol. Berita itu kemudian tersebar lewat [[Radio Republik Indonesia]]. Mendengar itu, Syahrir dengan mata sembab membiru memberi peringatan keras agar siaran itu dihentikan, sebab bisaboleh berdampak fatal dibunuhnya orang-orang Belanda di kampkem-kampkem tawanan oleh para pejuang republik, ketika tahu pemimpinnya dipukuli.
Agar Republik Indonesia tak runtuh dan perjuangan rakyat tak menampilkan wajah bengis, Syahrir menjalankan siasatnya. Di pemerintahan, sebagai ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), beliau menjadi arsitek perubahan Kabinet Presidensil menjadi Kabinet Parlementer yang bertanggung jawab kepada KNIP sebagai lembaga yang mempunyai fungsi legislatif. RI pun menganut sistem multipartai. Tatanan pemerintahan tersebut sesuai dengan arus politik pasca-Perang Dunia II, yakni kemenangan demokrasi atas fasisme. Kepada massa rakyat, Syahrir selalu menyerukan nilai-nilai kemanusiaan dan anti-kekerasan.
 
Dengan siasat-siasat tadi, Syahrir menunjukkan kepada dunia internasional bahawa revolusi Republik Indonesia adalah perjuangan suatu bangsa yang beradab dan demokratis di tengah suasana kebangkitan bangsa-bangsa melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme pasca-Perang Dunia II. Pihak Belanda kerap melakukan propaganda bahawa orang-orang di Indonesia merupakan gerombolan yang brutal, suka membunuh, merampok, menculik, dll. Karena itu sah bagi Belanda, melalui NICA, menegakkan tertib sosial sebagaimana kondisi Hindia Belanda sebelum Perang Dunia II. Mematahkan propaganda itu, Syahrir menginisiasi penyelenggaraan pameran kesenian yang kemudian diliput dan dipublikasikan oleh para wartawan luar negeri.
 
Ada satu cerita perihal sikap konsekuen pribadi Syahrir yang anti-kekerasan. Di pengujung Desember 1946, Perdana Menteri Syahrir dicegat dan ditodong pistol oleh serdadu NICA. Saat serdadu itu menarik pelatuk, pistolnya macet. Karena geram, dipukullah Syahrir dengan gagang pistol. Berita itu kemudian tersebar lewat Radio Republik Indonesia. Mendengar itu, Syahrir dengan mata sembab membiru memberi peringatan keras agar siaran itu dihentikan, sebab bisa berdampak fatal dibunuhnya orang-orang Belanda di kamp-kamp tawanan oleh para pejuang republik, ketika tahu pemimpinnya dipukuli.
 
Meski jatuh-bangun akibat berbagai tentangan di kalangan bangsa sendiri, [[Kabinet Sjahrir I]], [[Kabinet Sjahrir II]] sampai dengan [[Kabinet Sjahrir III]] (1945 hingga 1947) konsisten memperjuangkan kedaulatan RI lewat jalur diplomasi. Syahrir tak ingin konyol menghadapi tentara sekutu yang dari segi persenjataan jelas jauh lebih canggih. Diplomasinya kemudian berbuah kemenangan sementara. Inggris sebagai komando tentara sekutu untuk wilayah Asia Tenggara mendesak Belanda untuk duduk berunding dengan pemerintah republik. Secara politik, hal ini berarti secara ''de facto'' sekutu mengakui eksistensi pemerintah RI.
 
=== Urusan di Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu ===
Jalan berliku diplomasi diperkeruh dengan gempuran [[Agresi Militer Belanda I|aksi militer Belanda]] pada [[21 Juli|21 Julai]] [[1947]]. Aksi Belanda tersebut justeru mengantarkanmenghantarkan Indonesia ke forumsidang Perserikatan[[Pertubuhan Bangsa-Bangsa ([[PBBBersatu]]). Setelah tidak lagi menjabatmenjawat Perdana Menteri ([[Kabinet Sjahrir III]]), Syahrir diutus menjadi perwakilan Indonesia di PBB. Dengan bantuan [[Biju Patnaik]], Syahrir bersama [[Agus Salim]] berangkat ke Lake Success, New York melaluisambil singgah di [[New Delhi]] dan Kairo[[Kaherah]] untuk menggalang dukungan India dan Mesir.
 
Pada [[14 Agustus|14 Ogos]] [[1947]], Syahrir berpidato di muka sidang [[DewanMajlis KeamananKeselamatan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu|Majlis Keselamatan PBB]]. Berhadapan denganmenghadap para wakil bangsa-bangsa sedunia, Syahrir mengurai Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berabad-abad berperadaban aksara lantas dieksploitasi oleh kaum kolonial. Kemudian, secara piawai Syahrir mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan wakil Belanda, [[Eelco van Kleffens]]. Dengan itu, Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah bangsa yang memperjuangan kedaulatannya di gelanggang internasional. PBB pun turut campur, sehingga Belanda gagal mempertahankan upayanya untuk menjadikan pertikaian Indonesia-Belanda sebagai persoalan yang semata-mata urusan dalam negerinya.
 
Van Kleffens dianggap gagal membawa kepentingan Belanda dalam sidang DewanMajlis KeamananKeselamatan PBB. Berbagai kalangan Belanda menilai kegagalan itu sebagai kekalahan seorang diplomat ulung yang berpengalaman di gelanggang internasional dengan seorang diplomat muda dari negeri yang baru saja lahir. Van Kleffens pun ditarik dari posisi sebagai wakil Belanda di PBB menjadi duta besar Belanda di [[Turki]].
 
Syahrir populer di kalangan para wartawan yang meliput sidang DewanMajlis KeamananKeselamatan PBB, terutama wartawan-wartawan yang berada di Indonesia semasa revolusi. Beberapa surat kabar menamakan Syahrir sebagai ''The Smiling Diplomat''. Syahrir mewakili Indonesia di PBB selama 1 bulan, dalam 2 kali sidang. Pimpinan delegasi Indonesia selanjutnya diwakili oleh Lambertus Nicodemus Palar (L.N.) Palar sampai tahun 1950.<ref>[http://www.sinarharapan.co.id/berita/0508/24/opi02.html, Sinar Harapan Online, 24 Agustus 2005, ''Tanggapan untuk Bung Marzuki Usman (1), Bangsa yang Kurang Pandai Berterima Kasih?'']</ref>
 
Syahrir mewakili Indonesia di PBB selama 1 bulan, dalam 2 kali sidang. Pimpinan delegasi Indonesia selanjutnya diwakili oleh Lambertus Nicodemus Palar (L.N.) Palar sampai tahun 1950.<ref>[http://www.sinarharapan.co.id/berita/0508/24/opi02.html, Sinar Harapan Online, 24 Agustus 2005, ''Tanggapan untuk Bung Marzuki Usman (1), Bangsa yang Kurang Pandai Berterima Kasih?'']</ref>
 
=== Partai Sosialis Indonesia ===
 
== Akhir hidup ==
Tahun 1955 PSI gagal mengumpulkan suara dalam [[Pemilu di Indonesia#Pemilu 1955|pemilihan umum]] pertama di Indonesia. Setelah kasus PRRI tahun 1958<ref>[http://books.google.com/books?id=SawyrExg75cC&pg=PA328&dq=sjahrir+prri+permesta&hl=de&sig=Xvy1bC5SNiHKfMUICFLRmJqF2Lw Robert Cribb, Audrey Kahin ''Historical Dictionary of Indonesia'', Metuchen, N.J.: Scarecrow Press, 1992]</ref>, hubungan Sutan Syahrir dan Presiden [[Soekarno]] memburuk sampai akhirnya PSI dibubarkan tahun 1960. Tahun 1962 hingga 1965, Syahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai menderita ''stroke''. Setelah itu Syahrir diizinkan untuk berobat ke [[Zürich]] [[Swis]]s, salah seorang kawan dekat yang pernah menjabat wakil ketua PSI [[Sugondo Djojopuspito]] mengantarkannya di [[Bandara Kemayoran]] dan Syahrir memeluk [[Sugondo Djojopuspito|Sugondo]] dengan air mata. Sjahrir akhirnya meninggal di Swiss pada tanggal [[9 April]] [[1966]].
 
Pada tahun 1962 Syahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili. Ketika dalam tahanan ini Syahrir didapati menderita [[angin ahmar]] lalu diizinkan untuk mendapatkan rawatan di [[Zürich]], [[Switzerland]]. Beliau berangkat ke sana pada 1965 ditemani [[Sugondo Djojopuspito]], salah seorang kawan dekat yang pernah menjawat wakil ketua PSI mengantarkannya di [[Bandara Kemayoran]].
 
Sjahrir meninggal dunia di Zurich pada tanggal 9 April 1966 ketika berusia 57 tahun. Jenazahnya dibawa kembali ke Indonesia di mana beliau dimakamkan di [[Taman Makam Pahlawan Kalibata]], [[Jakarta]].
 
== Karya ==