Loceng

Loceng [lo-céng][1] (Mal., Sin. dan Bru.; juga dalam baku Indonesia: lonceng[2]) atau genta [gĕn-ta] ialah sejenis alat perkusi ringkas diperbuat daripada logam ditempa, kaca atau seramik yang dilengkapi suatu bandul pemukul dalam rongganya untuk membunyikannya. Ia pernah lazim sebagai suatu alat pemberitahuan atau panggilan untuk rakyat jelata agar berkumpul mendengarkan sebarang khabar berita pengumuman atau maklumat yang dikeluarkan oleh penguasa, ia turut dipakai untuk tujuan keupacaraan baik dalam ibadah keagamaan anutan agama tertentu mahupun dalam acara rasmi.

Terdapat seberapa istilah digunakan merujuk kepada jenis alat mengikut saiz bersesuaian untuk tujuan tertentu:

  • lo[n]ceng - lebih digunakan untuk alat bersaiz kecil dipasangkan pada peralatan yang boleh dibawa pada basikal, rumah, kenderaan seperti kapal dan sebagainya.
  • genta (pinjaman Bahasa Sanskrit: घण्टा ghaṇṭā[3]) lebih digunakan untuk alat yang bersaiz besar dan digantung di tempat tinggi agar dapat didengari dari jauh misalnya menara jam atau menara gereja.[4]

MekanismeSunting

Loceng dapat menghasilkan bunyi kerana adanya gelombang yang dihasilkan kedua komponen logam (bandul dan badan loceng) ketika digoyangkan. Gelombang tersebut menggetarkan udara disekitarnya. Perambatan getaran membentuk pola rapatan dan regangan. Pola rapatan dan regangan inilah menggetarkan udara di sekitarnya dan menjalar ke segala arah.

Gelombang yang dihasilkan merambat pada frekuensi tertentu dan akan menggetarkan gegendang telinga lalu memberikan informasi dalam telinga ke otak dalam menukarkan isyarat terhantar kepada bentuk suara atau bunyi. Gelombang bunyi termasuk ke dalam gelombang longitudinal kerana penyebaran membentuk pola rapatan dan regangan seperti yang telah dijelaskan di atas. Gelombang bunyi memerlukan suatu medium dalam perebakannya.

PenggunaanSunting

 
Loceng kapal

Zaman dahuluSunting

Alat ini dahulu pernah digunakan untuk mengkhabarkan berita kepada masyarakat dan sebagai penanda waktu. Loceng atau genta digunakan di berbagai agama di dunia sebagai penanda waktu ibadah atau sebagai bagian dari perangkat ritual. Genta digunakan antara lain dalam ritual Buddhisme dan Hinduisme. Dalam agama Buddha genta digunakan untuk menandai waktu beribadah, genta besar biasanya diletakkan di biara dan dibunyikan pada waktu-waktu tertentu. Pada agama Hindu terutamanya di Bali, genta kecil berukir wajra digunakan pedanda (pendeta) Hindu dalam ritual pemujaan.

Loceng juga digunakan oleh umat Kristian untuk memberi tanda waktu beribadah, biasanya dibunyikan tiga kali pada pukul 6.00. 12.00, dan 18.00 pagi mengikut waktu setempat. Loceng digunakan pertama kali dalam gereja Katolik Romawi sekitar tahun 400 Masihi, dan dianggap diperkenalkan oleh Paulinus, Uskup Nola di kota Campania, Italia. Penggunaannya menyebar luas dengan cepat dan tidak hanya digunakan untuk mengumpulkan umat ramai dalam acara keagamaan, tetapi juga sebagai peringatan ketika ada ancaman bahaya yang mendatang.

Zaman modenSunting

Alat ini semakin lama semakin dikurangkan penggunaannya seiring berkembangnya teknologi komunikasi; namun ada juga beberapa tempat yang tetap menggunakannya untuk keperluan umum, contohnya dipakai di beberapa sekolah menandakan jam waktu pelajaran, istirahat, masuk kelas, serta mengisyaratkan pengumuman tertentu. Selain itu, loceng juga dijadikan sebagai hiasan di pohon natal, biasanya loceng hiasan ini bentuknya kecil, berwarna-warni, dan terbuat dari bahan plastik, kaca, atau aluminium.

Loceng-loceng terkenalSunting

Loceng CakradonyaSunting

jmpl|200px|Loceng Cakra Donya

Loceng ini sangat terkenal di daerah Aceh. Sejarah mencatat bahwa loceng cakradonya merupakan pemberian dari Laksamana Cheng Ho, seorang pemimpin armada laut Tiongkok yang diutus oleh Kaisar Cina kepada Kesultanan Samudera Pasai pada tahun 1405. Pemberian loceng ini dalam rangka mengikat hubungan persahabatan dan kerjasama antara dua kerajaan di negara yang berbeda. Loceng ini berukuran 11/2 m dan lebar 1 m. Pada sekitar tahun 1524 M Kesultanan Pasai ditaklukkan oleh Kesultanan Aceh Darussalam dan loceng tersebut akhirnya diangkut ke Banda Aceh[5]. Nama Cakradonya adalah nama armada perang Sultan Iskandar Muda, yang mana cakra berarti kabar sedangkan donya artinya dunia. Loceng cakradonya berfungsi sebagai media untuk menyampaikan kabar kepada dunia, termasuk isyarat perang pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Pada bagian atas loceng ini terdapat tulisan aksara Tionghoa dan Arab. Aksara Tionghoa yang tertulis adalah "Sing Fang Niat Toeng Juut Kat Yat Tjo", tetapi tulisan aksara tersebut sudah tidak terbaca lagi karena sudah dimakan usia. Mulanya Loceng raksasa yang merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang bermutu tinggi ini diletakkan di dekat Masjid Raya Baiturrahman yang berlokasi di kompleks Istana Sultan. Namun kini Loceng Cakradonya telah dipindahkan ke Museum Aceh dan ditempatkan dalam sebuah kubah di halaman museum tersebut sejak tahun 1915. Hingga kini Loceng raksasa ini menjadi simbol atau icon khusus Kota Banda Aceh.

Loceng Soli Deo GloriaSunting

Sebuah loceng besar peninggalan Belanda di Museum Fatahillah. Loceng peninggalan Belanda sejak abad 18. Pada masanya, loceng ini selalu dibunyikan sebagai pertanda akan ada tawanan yang akan dihukum gantung oleh Pemerintah Belanda. Di bagian atas menara terdapat alat penggerak kuno yang kini sudah tidak berfungsi lagi. Pada alat penggerak tersebut tergantung sebuah besi semacam bandul, sedangkan loncengnya menempel di bagian atas. Di dekat loceng ini ada sebuah besi yang dikaitkan dengan besi lainnya untuk menarik. Jika besi penarik tadi ditarik kemudian dilepas, maka besi tadi akan memukul loceng. Loceng ini akan dibunyikan untuk memanggil semua warga di dalam maupun di luar tembok Batavia untuk menyaksikan hukuman gantung.

Loceng buatan tahun 1742 tersebut terbuat dari besi. Di masa Gubernur DKI Ali Sadikin, 1973, gedung bekas balai kota ini mengalami pemugaran besar-besaran. Namun tak ada data yang menyebutkan bagian bagian mana saja yang sudah dipugar dan diganti dengan yang baru. Berdasarkan pada keterangan arkeolog yang juga Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua, Candrian Attahiyyat, kemungkinan besar loceng pun ikut diganti. "Loceng yang sekarang kan kecil. Kemungkinan sudah mengalami perubahan sejak sebelum 1973, tetapi bisa juga pada saat pemugaran besar tahun 1973," ujarnya.

Dalam buku "Dari Stadhuis ke Museum", Hans Bonke dan Anne Handojo menyebutkan, tanggal 25 Januari 1707, Petronella Wilhelmina, putri Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704-1709) meletakkan batu pertama. Menara kecil dipasang di atas atap dan loceng dipasang kembali di sisi bordes. Dalam catatan lain, loceng dibikin tahun 1742, itu artinya selama abad 18 saja sudah terjadi perubahan. Bisa jadi loceng kematian dibikin setelah terjadi pembantaian orang Cina pada 1740. Eksekusi terakhir yang mengikutsertakan loceng kematian terjadi pada 1896. Tjoen Boen Tjeng dihukum gantung karena terlibat dalam penjarahan.

Buku ini juga mencatat, setelah tahun 1870 para juru foto dari Woodbury & Page yang membuat foto-foto pertama di Batavia menunjukkan bahwa bagian depan stadhuis sudah banyak berubah dalam 20 tahun terakhir. Sayangnya perubahan yang terjadi di sepanjang abad 18, 19, hingga 20 tak tercatat secara detail.

Big BenSunting

Nama "Big Ben" secara tidak rasminya merujuk kepada menara jam yang sering diberi nama di hujung Istana Westminster, London, England; namun nama tersebut lebih tepat merujuk kepada loceng raksasa seberat 14.5 tan yang tergantung dalam puncak menara jam itu. Loceng berat tersebut akan berdentang setiap pergantian jam, yang bunyinya seringkali disebut sebagai “bong” oleh penduduk setempat. Menara jam empat sisi berdentang terbesar di dunia ini telah berusia 150 tahun pada tahun 2009 ini. Selama perjalanan waktu 150 tahun itu loceng Big Ben juga sempat mengalami beberapa kerusakan mekanik yang disebabkan oleh karat dan salju, tetapi kerosakan-kerosakan yang terjadi masih dapat diatasi. Hingga saat ini, menara jam berlonceng buatan Whitechapel Bell Foundry tersebut menjadi mercu tanda terkenal se-United Kingdom.

Loceng kereta apiSunting

Kereta api wap zaman dulu menggunakan loceng yang dipasang pada lokomotif atau dipasang di belakang cerobong asap. Loceng ini dioperasikan secara manual iaitu dengan menarik pemukulnya dengan tangan. Fungsinya adalah untuk komunikasi sesama pengendali kereta dengan stesen yang menggunakan kod Morse jika terjadi sesuatu halangan di hadapan misalnya suatu mogok atau terjadi perompakan di hadapan landasan. Titik dilambangkan dengan satu kali bunyi loceng, dan garis dilambangkan dengan dua kali bunyi loceng secara berurutan karena pada zaman dulu belum ada telefon kereta api. Sedangkan zaman sekarang, untuk kereta yang masih menggunakan loceng, loncengnya sudah digerakan secara hidraulik dan tidak menggunakan sandi morse.

Lihat pulaSunting

RujukanSunting

  1. ^ "'loceng' - Kamus Bahasa Melayu". Pusat Rujukan Persuratan Melayu. Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia. Dicapai pada 23 Februari 2020.
  2. ^ "Arti kata 'lonceng'". Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan. Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Indonesia. Dicapai pada 23 Februari 2020.
  3. ^ "ghaṇṭā". Sanskrit Dictionary for Spoken Sanskrit. Dicapai pada 23 Februari 2020.
  4. ^ "'genta' - Kamus Bahasa Melayu". Pusat Rujukan Persuratan Melayu. Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia. Dicapai pada 23 Februari 2020.
  5. ^ http://melayuonline.com/ind/encyclopedia/detail/266/cakra-donya
  • Giok, Ko Sing, 1957. Riwayat Hidup K'ung Tse. Solo: Perserikatan K'ung Chiao Hui Indonesia

Lihat jugaSunting


Jika anda melihat rencana yang menggunakan templat {{tunas}} ini, gantikanlah ia dengan templat tunas yang lebih spesifik.