Jagung

(Dilencongkan dari Pokok Jagung)

Jagung (bahasa Inggeris: corn atau maize) merupakan bijirin makanan ruji dari Mesoamerica, spesies Zea mays ssp. mays. Jagung merupakan tanaman yang ditanam berasal dari teosinte Zea mays ssp. parviglumis, tumbuhan asal di sungai Balsas Lembah di Mexico selatan, dengan sehingga 12% bahan genetik didapati daripada Zea mays ssp. mexicana melalui introgresi. Istilah "teosinte" digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Pendapat yang menyatakan bahawa genus Tripsacum yang berkait dengan asal tumbuhan jagung telah dinafikan dengan analisa genetik moden.

Maize
Zea mays - Köhler–s Medizinal-Pflanzen-283.jpg
Ilustrasi gambaran bunga jantan dan betina jagung
Pengelasan saintifik
Alam:
Genus:
Zea (plant)
Spesies:
mays

Tumbuhan ini, khususnya biji-biji yang besar menguning, menjadi sumber makanan ruji ketiga utama manusia setelah gandum dan beras/padi[1].

PenamaanSunting

Kata "jagung" menurut Denys Lombard merupakan penyingkatan dari nama digunakan orang Jawa iaitu ꦗꦮ​ꦲꦒꦸꦁ jawa agung - jawa di sini bererti "jewawut" iaitu sejenis sekoi dan "agung" bermaksud "besar",[2] ia pertama kali dicatatkan terterap dalam bahasa Melayu (dieja sebagai djagoeng) dalam buku Nederlandsch-Indisch Plakaatboek 1602-1811 pada tahun 1800.[2] Kata-kata berupa sama yang terkira sama akar juga termasuk:[3]

  • jagong (Sunda, Aceh, Batak, Ambon)
  • jago (Bima)
  • jhaghung (Madura)
  • gandung (Toraja)
  • latung (Flores)

SejarahSunting

PengkultivaranSunting

 
Gambaran penanaman jagung pada Kodeks Firenze kurun ke-16.

Jagung budidaya dianggap sebagai keturunan langsung sejenis tanaman rerumputan mirip jagung yang bernama teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7 000 tahun lalu oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar secara semula jadinya.[4]

 
Gua Guila Naquitz di Oaxaca, Meksiko, lokasi ditemukannya sisa jagung tertua di dunia.

Petunjuk-petunjuk arkeologi mengarah pada budidaya jagung primitif di bahagian selatan Mexico, Amerika Tengah, sejak 7 000 tahun lalu. Sisa-sisa tongkol jagung kuno yang ditemukan di Gua Guila Naquitz, Lembah Oaxaca berusia sekitar 6250 tahun; tongkol utuh tertua ditemukan di gua-gua dekat Tehuacan, Puebla, yangberusia sekitar 3450 SM.[5][6]

Bangsa-bangsa Olmek dan Maya diamati sudah membudidayakan di seantero Amerika Tengah sejak 10 000 tahun yang lalu dan mengenal berbagai teknik pengolahan hasil. Teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ecuador) sekitar 7 000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4,000 tahun yang lalu. Pada saat inilah berkembang jagung yang beradaptasi dengan suhu rendah di kawasan Pergunungan Andes.[7]. Sejak 2500 SM, tanaman ini telah dikenal di berbagai penjuru Benua Amerika[8].

 
Zea mays "Oaxacan Green"

Perkenalan ke NusantaraSunting

Kedatangan orang-orang Eropah sejak akhir abad ke-15 membawa banyak jenis jagung ke Dunia Lama, baik ke Eropah maupun Asia. Penyebaran jagung ke benua Asia khususnya dipercepat dengan terbukanya jalur barat yang dipelopori oleh armada pimpinan Ferdinand Magellan melintasi Lautan Pasifik. Di tempat-tempat baru ini jagung relatif mudah beradaptasi kerana tahap kemuluran fenotip ia yang tinggi.

Jagung diperkirakan dibawa masuk Nusantara pada abad ke-16 oleh penjelajah Portugis.[9]

BotaniSunting

Produk utama jagung adalah bijinya menggabungkan ciri buah dan biji. Sebahagian besar isi biji ini diisi oleh endosperma yang kaya dengankarbohidrat.

PenanamanSunting

Jagung memerlukan cahaya matahari langsung untuk tumbuh dengan normal. Tempat dengan curah hujan 85–200 mm sebulan, suhu udara 23-27 °C (ideal), dan pH tanah 5,6-7,5 adalah ideal. Jenis tanah tidak terlalu penting, asalkan pengudaraan baik dan ketersediaan air mencukupi. Air yang cukup pada fasa pertumbuhan awal, pembungaan, serta pengisian biji adalah kritis bagi produksi jagung pipilan. Kekurangan air pada fasa-fasa pertumbuhan tersebut akan secara jelas menurunkan produksi.

Genangan tidak disukai jagung, meskipun jagung dapat membentuk pembuluh-pembuluh udara (aerenkima) apabila mengalami terendam air dalam jangka waktu cukup lama. Pembuatan parit pengatusan air atau pembentukan bedengan biasanya disarankan. Pengapuran mungkin diperlukan untuk meneutralkan pH tanah yang dikira terlalu berasid.

Penanaman benih jagung secara tradisional dilakukan dengan tangan menggunakan tugal untuk melubangkan tanah. Dalam pertanian dengan mekanisasi, penanaman bijian jagung dilakukan menggunakan mesin penabur benih (seed driller). Kepadatan populasi tanam yang biasa dipakai adalah 60 000 sampai 120,000 tanaman per ha, yang biasa diterjemahkan dalam jarak antarbaris (50–100 cm) dan jarak dalam baris (10–40 cm).

Kebutuhan hara jagung dikenal cukup tinggi dan dipenuhi melalui pemupukan. Selain memerlukan pupuk organik sebagai pupuk dasar/awal, jagung memerlukan masukan nitrogen (N, dari urea ataupun ZA), fosfat (biasanya dari SP36), dan kalium (K, biasanya dari KCl) untuk pertumbuhan dan hasil yang baik. Namun demikian, sejak 2000-an di Indonesia diperkenalkan pula pupuk majemuk yang telah mengandung ketiga unsur pokok tersebut. Pupuk organik cair (POC) juga mulai diperkenalkan untuk digunakan.

Pada pertengahan masa pertumbuhan vegetatif, jagung mengeluarkan akar udara (aerial roots) sehingga memerlukan pembumbunan untuk memaksimalkan penyerapan hara. Pengendalian tumbuhan pengganggu (gulma) dilakukan menggunakan herbisida atau dilakukan dengan pendangiran.

Penanaman jagung mengandalkan pasokan air dari hujan. Apabila mengalami kekurangan air, praktik di Indonesia pemberian air biasanya diberikan dengan cara penggenangan parit apabila hujan tidak tersedia. Air dialirkan melalui saluran irigasi atau menggunakan pompa air.

Organisme perosakSunting

Penanaman jagung boleh terjejas melalui agen perosak tertentu yang berbeza mengikut iklim.

Di kawasan Asia tropika, penyakit utama jagung adalah:

Hama utama jagung adalah

Di Afrika tropis dikenal gulma sekaligus parasit berbahaya yang diawasi ketat agar tidak masuk ke kawasan Asia tropika iaitu striga.

KegunaanSunting

Dalam pemakananSunting

 
Nasi jagung dari Blitar selatan

Bagian jagung yang biasa dimakan manusia adalah bijiannya, baik masih muda ketika isinya belum mengering mahupun setelah tua dan mengering. Bijian kering dapat dikisarkan menjadi tepung jagung merupakan bahan untuk berbagai kuih dan penganan olahan serta untuk bahan baku pembuatan mi bihun, ia sering menjalani proses khas yang menanggalkan isirong keras serta menambahkan gizi penting lain iaitu penisytamalan.

Bijirin jagung adakala dipecah kasar bijian jagung diolah di Amerika Syarikat sebagai emping jagung yang dimakan dalam waktu sarapan . Di Jawa Timur terutama, bijian jagung kering ditumbuk agak halus untuk mendapatkan beras jagung, yang setelah dikukus atau ditanak menjadi nasi jagung. Nasi jagung ini baik yang tulen atau bercampur dengan nasi padi, umum sebagai makanan ruji terutama di wilayah ini yang mendapat pengaruh dari budaya Madura.

Bijian utuh jagung dapat dipanggang, disangrai, atau digoreng. Gorengan bijian kering jagung dikenal sebagai marning di Jawa Tengah. Dari bijian jagung kering varietas tertentu juga dapat dibuat bertih jagung.

Tongkol jagung yang masih muda dan belum berkembang penuh dipanen sebagai sayuran segar yang dikenal sebagai "anak jagung" atau babycorn; ia boleh dimakan secara direbus, dipanggang, atau dibakar. Beberapa masakan sayur seperti sayur asam dan sayur bening dilengkapi dengan potongan tongkol jagung atau bijian muda yang sudah dipisahkan dari tongkolnya (dipipil).

Industri dan tenagaSunting

Saat ini jagung juga dijadikan sebagai sumber tenaga alternatif melalui penghasilan etanol yang boleh dipergunakan untuk menggerakkan kenderaan menggantikan petrol.[10][11] Sisa tongkol turut boleh digunakan sebagai sumber biojisim.

Selain itu, saripati jagung dapat diubah menjadi polimer sebagai bahan campuran pengganti fungsi utama plastik. Salah satu perusahaan di Jepuntelah mencampur polimer jagung dan plastik menjadi bahan mentah membuat perkakasan komputer yang siap dipasarkan.[12]

Kegunaan lainSunting

 
Kelobot digunakan untuk pembungkus wajik di Yogyakarta

Daun pembungkus (braktea) tongkol jagung (disebut kelobot) yang telah dikeringkan digunakan di Jawa sebagai pembungkus makanan mahupun sebagai komponen suatu rokok golongan tradisional ("rokok kelobot").

Untuk unggas dapat diberikan dalam bentuk kasar (untuk burung dara), dipecah (pakan burung pengicau), dihaluskan, sampai berbentuk serbuk.

GaleriSunting

Lihat jugaSunting

RujukanSunting

  1. ^ Saptoningsih. Diversifikasi Pangan Olahan Jagung. Laman BPPSDMP Kementerian Pertanian.Diakses 3 Jun 2015.
  2. ^ a b Lombard, Denys (1996). Nusa Jawa: Silang Budaya. 2: Jaringan Asia. Penerbit Gramedia. m/s. 263.
  3. ^ Zea mays L.. Laman tanaman obat Departemen Kesehatan
  4. ^ Gepts P. 2004. Crop Domestication as a Long-term Selection Experiment. In: Janick J. Plant Breeding Reviews, Vol. 24, Part 2, ISBN 0-471-46892-4. John Wiley & Sons, Inc. hal. 6.
  5. ^ "Origin, History and Uses of Corn". Iowa State University, Department of Agronomy. 11 Februari 2014.
  6. ^ Roney, John (2009). "The Beginnings of Maize Agriculture". Archaelogy Southwest 23 (1):4
  7. ^ Bakalar, Nicholas. Corn, Arrowroot Fossils in Peru Change Views on Pre-Inca Culture. National Geographic News. Edisi 2 Maret 2006
  8. ^ Roney, John (Winter 2009). "The Beginnings of Maize Agriculture". Archaeology Southwest. 23 (1): 4.
  9. ^ Milho, Makk, and Yu Mai: Early journey of maize to Asia. Chapter 6: Maize in the southeast Asian archipelago and Australia
  10. ^ Biello, D. Can Ethanol from Corn Be Made Sustainable?. Scientific American. 20 Feb. 2013. Diakses 12 Mei 2014.
  11. ^ Torres, Andres F.; Slegers, Petronella M.; Noordam-Boot, Cornelie M. M.; Dolstra, Oene; Vlaswinkel, Louis; van Boxtel, Anton J. B.; Visser, Richard G. F.; Trindade, Luisa M. (2016-03-15). "Maize feedstocks with improved digestibility reduce the costs and environmental impacts of biomass pretreatment and saccharification". Biotechnology for Biofuels. 9: 63. doi:10.1186/s13068-016-0479-0. ISSN 1754-6834. PMC 4791978. PMID 26981155.
  12. ^ http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/09/time/091302/idnews/876754/idkanal/317