'Leftenan Kolonel Untung Sutopo bin Syamsuri (lahir di Desa Sruni, Kedungbajul, Kebumen, Jawa Tengah pada 3 Julai 1926, mati di Cimahi, Jawa Barat 1966 adalah Komander Batalion I Tjakrabirawa yang memimpin Gerakan 30 September 1965. Untung adalah anak didik Presiden Indonesia Soeharto ketika menjadi Komandan Rejimen 15 di Solo. Untung adalah Komander Kompi Batalion 444 dan begitu tertarik degan pemimpin PKI, Alimin.


Latar BelakangSunting

Untung atau 'Kusman' membesar di Solo. Ayahnya mempunyai kedai menjual kain batik di Pasar Kliwon,Solo. Untung/ Kusman dipelihara oleh bapa saudaranya Syamsuri. Minat Untung kepada bola sepak menjadi dia ahli Kaparen Voetball Club. Setelah lulus sekolah dasar (SD),untung ke sekolah dagang tapi tidak tamat kerana Perang Dunia II iaitu Jepun menyerang Indonesia dan Untung menyertai Heiho.

Kerjaya tenteraSunting

Untung menyertai Batalion Sudigdo di Wonogiri, Solo. Selanjutnya Gubernur Militer Kolonel Sobroto memerintahkan agar Batalion Sudigdo dipindahkan ke Cepogo, di kaki Gunung Merbabu.Setelah Peristiwa Madiun, Untung menukar nama kepada Untung Sutopo dan masuk TNI melalui Akademi Militer di Semarang.

Untung lulusan terbaik bersama Benny Moerdani. Mereka bertugas dalam operasi perebutan Irian Barat selama sebulan .Kemudian Presiden Soekarno memerintah gencatan senjata pada tahun 1962. Sebelum Untung ditarik ke Rejimen Cakrabirawa, dia pernah menjadi Komandan Batalion 454/Banteng Raiders berpangkalan di Srondol, Semarang. Ketika peristiwa G30S , Banteng Raiders berhadapan dengan pasukan elite RPKAD di bawah komando Sarwo Edhie Wibowo.

Setelah operasi G30S gagal, Untung melarikan diri dan tertangkap di Brebes, Jawa Tengah. Melalui sidang Mahmillubm , Untung pun dipindah di Cimahi, Jawa Barat pada 1966.

Hubungan dengan SoehartoSunting

Soeharto pernah menjadi pegawai atasan Untung di Kodam Diponegoro. Majlis pernikahan Untung dihadiri oleh Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto, sebelum G30S.Sejak 1941,Majlis diskusi Marxisme ('House of Marx') di Pathuk,Yogyakarta pernah dihadiri oleh Soekarno,Untung, Kolonel Latief sa Sjam Kamaruzzaman. Lain-lain ialah Subadio Sastrosatomo dan Jenderal Soedirman.[1]

RujukanSunting