Angsana

spesies tumbuhan

Angsana atau sena (nama botani: Pterocarpus indicus)[3][4] ialah spesies tumbuhan berbunga daripada keluarga Fabaceae[5] yang tumbuh asal di lingkungan hutan hujan tropika Asia Tenggara, tidak seperti spesies-spesies genus Pterocarpus lain yang menyukai wilayah subtropika. Pohon ini ditemukan dari Burma selatan melepasi Asia Tenggara dan Kepulauan Nusantara hingga ke Pasifik barat, termasuk di tanah besar China selatan, Kepulauan Ryukyu, dan Kepulauan Solomon.[6] Pohon ini diduga telah pupus di Semenanjung Melayu.[5]

Angsana
Pengelasan saintifik e
Domain: Eukaryota
Alam: Plantae
Klad: Trakeofit
Klad: Angiosperma
Klad: Eudikot
Klad: Rosid
Order: Fabales
Keluarga: Fabaceae
Genus: Pterocarpus
Spesies:
P. indicus
Nama binomial
Pterocarpus indicus
Sinonim[2]
Senarai
    • Echinodiscus echinatus Miq.
    • Lingoum echinatum (Pers.) Kuntze
    • Lingoum indicum (Willd.) Kuntze
    • Lingoum rubrum Rumph.
    • Lingoum saxatile Rumph.
    • Lingoum wallichii Pierre
    • Pterocarpus blancoi Merr.
    • Pterocarpus carolinensis Kaneh.
    • Pterocarpus echinata Pers.
    • Pterocarpus indica Willd. [ejaan lain]
    • Pterocarpus klemmei Merr.
    • Pterocarpus obtusatus Miq.
    • Pterocarpus pallidus Blanco
    • Pterocarpus papuana F. Muell.
    • Pterocarpus papuanus F.Muell.
    • Pterocarpus pubescens Merr.
    • Pterocarpus vidalianus Rolfe
    • Pterocarpus wallichii Wight & Arn.
    • Pterocarpus zollingeri Miq.

Angsana dianggap sebagai pokok balak yang baik.

Sebatang pohon angsana yang merimbun.

Peristilahan sunting

Nama-nama angsana (Jawi: أڠسان) dan sena (Jawi: سنا) seasal dengan nama-nama tempatan dalam rantau Nusantara:[4]

  • asan (Aceh);
  • sena, sona, hasona (Batak);
  • asana, sana, langsano, lansano (Min.);
  • angsana, babaksana (Btw.);
  • sana kembang (Jw., Md.).

Namun juga, nara (Bima, Seram), nar, na, ai na (Tim.), nala (Seram, Haruku), lana (Buru), lala, lalan (Amb.), ligua (Ternate, Tidore, Halm.), linggua (Maluku) dan lain-lain.[4] Ia sewarisan narra di Filipina.

Ia disebut tnug di Kemboja, dan pradu di Thailand.

Botani sunting

Pokok sunting

 
Pohon angsana

Pokok angsana jenis pokok yang malar hijau yang mampu tumbuh mencecah ketinggian 40 meter sehingga 48 meter di tempat asalnya dan gemang mencapai 350sm.[5] Besarnya kadang-kadang menjadi raksasa rimba. Batang sering beralur atau berbonggol; biasanya dengan akar papan (banir). Puncaknya lebat daun membentuk serupa kubah, dengan cabang-cabang yang merunduk hingga dekat tanah. Kulit kayunya kelabu keperangan, memecah atau serupa sisik halus, dan mengeluarkan getah bening kemerahan apabila dilukai.[7]

Daun majemuk menyirip gasal, panjang 12–30 cm. Anak daun 5-13, berseling pada poros daun, bundar telur hingga agak jorong, 6-10 × 4–5 cm, dengan pangkal bundar dan ujung meruncing, hijau terang, gundul, dan tipis.[7] Tangkai daunnya sepanjang sekitar 2 hingga 4 cm.

Bunga dan buah sunting

 
Buah angsana

Bunga-bunga berkumpul dalam malai di ketiak, 9–15 cm panjangnya. Bunga berkelamin ganda, berwarna kuning dan berbau harum semerbak, berbilangan-5. Kelopak serupa loceng, berdiameter 6mm, dua taju teratas lebih besar dan kadang-kadang menyatu. Mahkota lepas-lepas, berkuku, bendera bundar telur terbalik atau seperti sudip. Benang sari 10 helai, yang teratas lepas atau bersatu.[7] Bunganya berbeza dari sedikit sehingga merimbun dan berbunga dari bulan Februari hingga Mei di Malaysia dan Filipina. Ia berbau harum dan mempunyai ranggi kuning atau kuning bata.

Buah polong bulat leper pipih, dikelilingi sayap tipis seperti kertas, lk. 6 cm diameternya, tidak memecah ketika masak. Biji 1-4 butir[7] dan bersayap serabut bagi penyebaran melalui udara. Polong akan masak dalam waktu 4-6 bulan, berwarna keperangan ketika masak tua dan mengering. Bahagan tengah polong gondol pada forma indicus dan berbulu sikat pada forma echinatus (Pers.) Rojo. Ada pula bentuk-bentuk antaranya.[8]

Kebanyakan spesies Pterocarpus mengemari cuaca bermusim, tetapi Pterocarpus indicus menggemari hutan hujan tropika.

 
Angsana yang ditanam untuk pagar hidup

Kegunaan sunting

 
Venier dengan urat seperti cengkerang

Pokok angsana mempunyai kayu yang keras, kemerahan, tahan anai-anai dan berbau harum seperti bunga mawar. Kayu ini dikenali sebagai "amboyna" di Indonesia sempena kota Ambon, di mana kebanyakan pokok ini ditemui. Sering kali kayu sena dipotong nipis sebagai lapis venier, bagi menghasilkan perabot. Bunganya digunakan sebagai sumber madu sementara rebusan daunnya digunakan sebagai syampu. Kedua-dua bunga dan daun dikatakan boleh dimakan.[perlu rujukan]

Pemanfaatan sunting

Kayu angsana (disebut sono kembang atau narra) kuat dan awet serta tahan cuaca digunakan dalam konstruksi ringan mahupun berat seperti rangka bangunan, penutup dinding, tiang, jambatan, landas jalan kereta api, kayu-kayu penyangga, binaan perairan laut, dan lain-lain dalam bentuk balok, kasau, papan, dan panil kayu yang lain.[5]

Warna dan motif serat kayunya yang indah kemerah-merahan menjadikan sono kembang sebagai kayu pilihan untuk pembuatan perabot dan kabinet bermuti tinggi, alat-alat musik, lantai parket, panil kayu dekoratif, gagang peralatan, serta untuk dikupas sebagai venir dekoratif untuk melapisi kayu lapis dan meja berharga mahal. Sifat kembang susutnya yang rendah setelah kering menjadikan kayu ini cocok untuk pembuatan alat-alat yang membutuhkan ketelitian.[5] Sono kembang termasuk jenis kayu populer sebagai bahan sarung keris (warangka), terutama karena adanya pola totol-totol atau garis dan urat-urat kayunya dekoratif.[9]

Getah yang keluar dari kulit kayunya mengental dan memerah gelap seakan darah[10] yang disebut kino atau sangre de drago (darah naga) terdiri dari asid kinotanat dan zat warna merah dan memiliki sifat berubat yang kelat.[10] Simplisia yang digunakan untuk ubat seperti kayu, resin merah (kino), dan daun muda. Angsana bersifat diuretik. Kajian dilakukan Universitas Sumatera Utara pada tahun 90-an menunjukkan bahwasanya pengaruh seduhan daun angsana terhadap penurunan kadar gula darah arnab dibandingkan dengan tolbutamid. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata infus daun Angsana 5 ml, 10% dan 20°Io secara oral menurunkan kadar gula darah arnab. Pengaruh infus 10% tidak ada beda dengan 50 mg/kg bb tolbutamid, sedangkan penurunan oleh infus 20% lebih besar daripada pengaruh oleh tolbutalmid.[10]

Secara tradisional, kulit kayu pohon ini biasa direbus dan airnya digunakan untuk menghentikan cirit-birit, sebagai obat kumur untuk menyembuhkan seriawan, dan juga untuk mengubati migrain.[11] Rambut disapukan air rendaman daun-daunnya tumbuh lebih baik. Sementara daun mudanya yang dilayukan digunakan untuk mempercepat masaknya bisul.[4] Kino dan ekstrak daun angsana juga dilaporkan memiliki khasiat untuk mengendalikan tumor dan kanker.[12] Ekstrak getah batang angsana dapat pula dijadikan penyembuhan untuk keracunan. Efek tumbuhan ini mirip dengan tumbuhan gambir, tetapi jarang diketahui.[11] Oleh Etnis Gayo, air remasan daun angsana yang dicampur dengan gula aren dapat menyembuhkan demam (diminum 2-3 kali sehari).[13]

Pertanian sunting

Angsana juga sering ditanam sebagai pagar hidup dan pohon pelindung di sepanjang tepi taman agrohutan. Perakarannya yang baik dan dapat mengikat nitrogen mampu membantu memperbaiki kesuburan tanah. Karena tajuknya yang rendang, angsana kemudian juga masyhur sebagai tanaman peneduh dan penghias tepi jalan di perkotaan khususnya di Asia Tenggara.[5] Akan tetapi pohon-pohon angsana yang ditanam di tepi jalan, kebanyakan berasal dari stek batang yang berakar dangkal, sehingga mudah tumbang. Lagipula, pohon-pohon peneduh yang sering mengalami pemangkasan akan menumbuhkan cabang-cabang baru (trubusan) yang rapuh dan mudah patah; dengan demikian perlu berhati-hati bila menanamnya di daerah yang banyak berangin.

Perkayuan sunting

Batang yang terserang penyakit sehingga berkenjal (monggol) menghasilkan kayu yang kuat dan bermotif bagus yang terkenal sebagai “amboyna”.[5] Istilah ini berasal dari nama tempat Ambon yang pada masa silam banyak menghasilkan kayu termaksud dan didagangkan sebagai linggua, kayu buku atau kayu akar (Bld.: wortelhout). Namun sebenarnya kayu berpenyakit ini yang serupa dengan kayu gembol pada pohon jati, terutama dihasilkan oleh wilayah timur Pulau Seram.[4]

Kayu teras narra berwarna kekuning-kuningan coklat muda hingga kemerah-merahan coklat dengan coreng-coreng berwarna lebih gelap. Kayu gubal jelas terbedakan, berwarna kuning jerami pucat hingga kelabu cerah. Tekstur kayu berkisar antara halus-sedang hingga kasar-sedang dengan urat kayu yang bertautan atau bergelombang. Kayu ini berbau harum dan mengandung santalin, suatu komponen kristalin merah yang menyusun bahan warna utama[5]

Pada umumnya kayu narra mudah dikerjakan dan tidak merusak gigi gergaji. Sifat kayu ini sangat baik untuk dibubut dan dipahat, cukup baik untuk diampelas, dipelitur, dan direkat. Tergolong baik untuk dipaku dan disekrup, tetapi papan narra yang tipis agak mudah pecah apabila dipaku.[5]

Pada masa silam, kayu sonokembang merupakan salah satu kayu yang digemari penduduk Indonesia, baik kerana mutu kayunya, keindahan motifnya, maupun karena ukurannya yang besar.[4] Karena telah hampir punah di alam, kini Indonesia praktis tidak lagi menghasilkan kayu ini dalam aras yang berarti secara ekonomi.

Nasib yang hampir serupa juga dialami oleh Filipina, Papua New Guinea dan Thailand; tiga negara produsen utama kayu sonokembang. Berjaya mengekspor kayu narra hingga 3 juta kg pada tahun 1985, produksi kayu ini terus menurun di Filipina sehingga pada dua tahun berikutnya tinggal 0.4 juta kg yang boleh dieksport. Eksport kayu ini diharamkan Papua Nugini kecuali setelah diolah dalam bentuk tukangan lain Sementara Thailand pada tahun 1990 telah memerlukan tambahan pasokan kayu ini dari Burma dan beberapa negara di Indochina agar eksport kayu narra gergajian yang dilakukannya masih boleh berlangsung. Eksploitasi yang tinggi yang tidak diimbangi oleh kemampuan regenerasi tegakan di alam, diduga menjadi salah satu penyebab utama penyusutan populasi angsana di alam. Sebab yang lain ialah hilangnya habitat alami angsana akibat perladangan.

Simbol sunting

Angsana (disebut narra) merupakan pokok kebangsaan negara Filipina, dan juga pokok daerah Chonburi dan Phuket di Thailand.

Galeri sunting

Lihat juga sunting

Rujukan sunting

  1. ^ Barstow, M. (2018). "Pterocarpus indicus". Senarai Merah Spesies Terancam IUCN. 2018: e.T33241A2835450. doi:10.2305/IUCN.UK.2018-2.RLTS.T33241A2835450.en. Dicapai pada 26 Disember 2022.
  2. ^ "Pterocarpus indicus Willd". The World Flora Online. World Flora Consortium. 2023. Dicapai pada 18 Oktober 2023.
  3. ^ "Index to Scientific names of Tropical Tree Species along with their Vernacular Names" (PDF).
  4. ^ a b c d e f Heyne, Karel (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 2. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 998-1003.
  5. ^ a b c d e f g h i I. Soerianegara; RHMJ. Lemmens, penyunting (2002). Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 5(1): Pohon penghasil kayu perdagangan yang utama. Jakarta: PROSEA – Balai Pustaka. m/s. 404-410. ISBN 979-666-308-2.
  6. ^ International Legume Database & Information Service: Pterocarpus indicus
  7. ^ a b c d Argent, G. (t.t.). Manual of the Larger and More Important Non-Dipterocarp Trees of Central Kalimantan, Indonesia. 2. Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia: Forest Research Institute. m/s. 366. Check date values in: |date= (bantuan)
  8. ^ Danida Seed Leaflet: Pterocarpus indicus (pdf file) Diarkibkan 2008-04-09 di Wayback Machine
  9. ^ Keris:Senjata Tradisional Indonesia. hal. 70.
  10. ^ a b c "Angsana". IPTEKnet. Diarkibkan daripada yang asal pada 2013-03-05. Dicapai pada 6 April 2013. Unknown parameter |dead-url= ignored (bantuan)
  11. ^ a b Dharma, A.P. (1987) Indonesian Medicinal Plants [Tanaman-Tanaman Obat Indonesia]. Hal. 23-24. Jakarta:Balai Pustaka. ISBN 979-407-032-7
  12. ^ Purdue University New Crops: Pterocarpus indicus
  13. ^ Hidayat, Syamsul (2005). Ramuan Tradisional ala 12 Etnis Indonesia. hal. 65 Jakarta: Penebar Swadaya. ISBN 979-489-944-5.

Pautan luar sunting